Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat melepas ekspor 10.000 ton cangkang sawit ke Jepang di di Pelabuhan Sungai Talang Duku, Jambi/ist

Kementan Dorong Cangkang Sawit Jambi Masuki Pasar Global

Agrofarm.co.id-Indonesia terus berupaya melakukan penetrasi terhadap potensi pasar ekspor produk-produk pertanian dan peternakan ke Jepang.

Potensi pasar adalah peluang dari upaya diversifikasi produk yang telah ada di pasar tujuan ekspor. Untuk beberapa komoditi, produk pertanian Indonesia telah menguasai 100 persen potensi pasar ekspor Jepang.

Produk pertanian Indonesia yang diekspor ke negeri Sakura adalah minyak nabati dan lemak. Lalu disusul lateks dan karet alam, kopi, produk pangan lain, kakao dan produk kakao, rempah-rempah, bahan asal tanaman lain, sisa produk nabati dan hewani, teh & bahan minuman penyegar, kacang-kacangan, bahan pangan asal hewan, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

“Kita jaga neraca perdagangan produk pertanian dengan Jepang yang positif ini, kita kawal 3K-nya, yaitu kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat melepas ekspor 10.000 ton cangkang sawit ke Jepang senilai Rp 9,7 miliar di Pelabuhan Sungai Talang Duku.

Jamil menjelaskan, berdasarkan data dari sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST tercatat total ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Jepang hingga bulan Juli 2019 sebanyak 344,6 ribu ton dengan nilai ekonomi Rp. 703 miliar sementara impornya tercatat 1,7 ribu ton dengan nilai ekonomi setara dengan Rp. 149,048 miliar.

“Ini dapat dipantau juga oleh seluruh pemerintah daerah dengan menggunakan aplikasi IMACE,” ungkap Jamil dalam keterangan resminya, Kamis (15/8/2019).

“Aplikasi peta potensi komoditas pertanian berorientasi ekspor, IMACE yang telah digagas oleh Barantan tengah digalakkan ke seluruh provinsi, harapannya aplikasi ini dapat digunakan sebagai landasan kebijakan pembangunan pertanian berorientasi ekspor dengan berbasiskan kawasan,” tambahnya.

Pada waktu yang sama, Jamil juga melepas 3 komoditas pertanian ekspor asal Jambi dengan total nilai ekonomi Rp 23 miliar. Masing-masing 447 ton pinang tujuan Thailand dan Iran senilai Rp 7,8 miliar, 201 ton karet tujuan China senilai Rp 3,8 miliar; serta 356,6 M3 kayu olahan tujuan China dan Jepang senilai Rp 1,8 miliar.

Pasar cangkang sawit

Menurut data, cangkang sawit asal Jambi yang laris di pasar Jepang juga telah tembus ke 3 negara mitra dagang lainnya yakni Korea Selatan, Belanda dan Thailand.

Total ekspor cangkang sawit hingga Agustus 2019 telah mencapai 82% dari total 2018 yang mencapai 642,9 ribu ton. Periode Januari – Agustus 2019 ekspor cangkang sawit telah mencapai 528 ribu ton atau senilai Rp. 520 miliar, sementara periode Januari – Agustus 2018 hanya mencapai 463,8 ribu ton. “Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2018 sudah mengalami kenaikan 13,8%.

Dengan potensi yang berlimpah, Jamil yakin produk sampi ng sawit berupa cangkang ini dapat lebih ditingkatkan. Harapannya dapat dipasarkan juga ke 13 negara tujuan ekspor pinang biji, dengan sebaran negara masing-masing Afganistan, Australia, China, Bangladesh, Hongkong, India, Iran, Myanmar, Nepal, Singapore, Thailland, UEA, dan Vietnam.

“Cangkang sawit yang digunakan sebagai bahan bakar hijau ini memiliki nilai ekonomi yang bersaing, dengan kerjasama pihak dan instansi terkait, kita terobos diversifikasi pasarnya.Ini sesuai dengan arahan Presiden melalui Menteri Pertanian, untuk terus kawal dan lakukan terobosan untuk mendorong ekspor. Ekspor, ekspor dan ekspor lagi,” pungkas Jamil. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *