Varietas padi Impari 30/ist

Padi Hibrida Alternatif Peningkatan Produktivitas Beras Nasional

Agrofarm.co.id-Padi hibrida bisa menjadi alternatif peningkatan produktivitas beras nasional. Produktivitas padi hibrida memiliki potensi besar untuk ditingkatkan.

Padi hibrida memiliki produktivitas musiman rata-rata 7 ton/ha, lebih tinggi kalau dibandingkan dengan produktivitas padi inbrida yang hanya mencapai 5,15 ton/ha. Namun, luas tanam padi hibrida hanya kurang dari satu persen dari total luas tanam padi di Indonesia dan telah mengalami stagnasi selama beberapa tahun.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Krishnamurti mengatakan, walaupun memiliki potensi besar, pengembangan padi hibrida di Tanah Air masih menemui banyak permasalahan. Misalnya mengenai sulitnya mengubah persepsi yang sudah terbangun di benak para petani mengenai lebih menguntungkannya menanam padi inbrida daripada padi hibrida.

Selain itu, produksi dan ketersediaan indukan dan benih hibrida yang rendah, kerentanan terhadap penyakit, rasa/tekstur nasi, tingginya harga benih, kebiasaan petani menggunakan benih sendiri dan kurangnya keterampilan petani juga menjadi faktor yang menyebabkan sulitnya pengembangan padi hibrida.

Karena tidak tersedianya benih hibrida, lanjut Indra, banyak petani terpaksa kembali menanam benih inbrida, karena mereka tidak dapat menemukan benih yang diinginkan di pasar setempat. Padahal, meskipun harga benih padi hibrida terbilang mahal, berkisar antara Rp 110.000-Rp 135.000, para petani tidak lantas menganggap harga sebagai kendala. Petani biasanya membuat perhitungan cermat sebelum menanam.

“Ketika mereka percaya bahwa membelanjakan lebih banyak modal untuk saprotan akan memberikan pendapatan yang lebih tinggi, mereka bersedia melakukannya. Mereka bersedia membayar untuk benih padi hibrida premium jika mereka yakin akan memperoleh pendapatan lebih tinggi saat panen,” beber Indra dalam siaran persnya, Senin (12.8/2019).

Jika padi hibrida diharapkan untuk mencapai tingkat luasan seperti di Cina (51% dari total luas tanam padi) dan Pakistan (25-30% dari total luas tanam padi), penting bagi sektor swasta untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengembangkan dan mengkomersilkan varietas benih yang tepat. Untuk saat ini, impor masih tetap penting, bukan hanya untuk menyediakan benih dalam jumlah cukup, tetapi juga untuk menguji apakah varietas padi hibrida tertentu sesuai dengan kondisi lokal di Indonesia. Begitu ada kapasitas yang cukup untuk mengembangkan varietas-varietas ini di Indonesia, ketergantungan pada impor akan berkurang secara alamiah.

“Hal ini sangat bergantung pada keahlian teknis yang tersedia di Indonesia. Pengembangan padi hibrida di Indonesia saat ini juga terkendala oleh rendahnya jumlah pakar yang mampu mengembangkan varietas baru. Agar impor benih dapat digantikan secara berkelanjutan, program pembangunan manusia perlu dilakukan secara bekerjasama dengan berbagai universitas. Pendirian pusat penelitian di berbagai daerah di Indonesia akan memungkinkan pengembangan varietas yang sesuai dengan preferensi konsumen tertentu serta iklim dan kondisi tanah di daerah-daerah yang berbeda,” ungkap Indra.

Untuk memaksimalkan potensi padi hibrida, ada beberapa hal yang direkomendasikan oleh CIPS kepada pemerintah. Yang pertama adalah perlu memasukkan padi hibrida ke dalam prioritas perencanaan pembangunan pertanian.

Padi hibrida memang belum dimasukkan ke dalam program utama yang terkait dengan perencanaan pembangunan pertanian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/RPJMN. Alasan untuk kurangnya prioritas ini mungkin adalah karena statistik kuantitas produksi beras nasional di Indonesia telah lama dibesar-besarkan. Baru belakangan data ini dikoreksi menggunakan metode Kerangka Sampel Area.

Dengan statistik resmi yang menunjukkan tingkat produksi beras yang mencukupi, pembuat kebijakan tidak terdorong untuk berfokus pada peningkatan produktivitas, yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pengembangan padi hibrida. Karena itu tidak mengherankan bahwa pemerintah tidak memiliki program yang signifikan untuk meningkatkan penerimaan padi hibrida oleh petani.

Rekomendasi selanjutnya adalah impor benih padi hibrida. Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 127 tahun 2014 pasal 5(1)b tentang Pemasukan dan Pengeluaran Benih Tanaman menyatakan bahwa benih padi hibrida F1 diizinkan untuk diimpor selama tiga tahun setelah pelepasan varietas. Namun, beberapa perusahaan tidak dapat melakukan impor ini.

Menurut pasal 10 Peraturan ini, impor demikian tergantung pada adanya kekurangan pasokan benih dalam negeri, tetapi tidak ada pembedaan jelas antara benih inbrida dan hibrida. Akibatnya, pemerintah bisa memblokir impor F1 hibrida, dengan alasan bahwa tidak ada kekurangan benih di dalam negeri.

Indonesia adalah salah satu konsumen beras terbanyak di dunia, dengan perkiraan tingkat konsumsi 97,6 kg per kapita per tahun pada tahun 2017. Dengan jumlah penduduk yang besar (264 juta jiwa pada tahun 2018) dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,27% per tahun (2018), Indonesia harus menyediakan cukup banyak beras untuk memastikan ketahanan pangan di masa depan.

Jumlah total beras yang dikonsumsi oleh orang Indonesia terus meningkat dan diproyeksikan akan meningkat 1,5% setiap tahunnya menjadi 99,08 kg per kapita per tahun pada tahun 2025. Jumlah ini diperkirakan akan kembali meningkat sebesar 2% per tahun menjadi 99,55 kg per kapita pada tahun 2045. Puspa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *