Kelompok tani kopi/ist

Dorong Ekspor Melalui Perbaikan Pascapanen Kopi

Agrofarm.co.id-Kopi merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) komoditas unggulan ekspor Indonesia selain minyak kelapa sawit, karet, produk karet, kakao, tekstil dan produk tekstil, kayu dan kayu olahan, kertas dan produk kertas, ikan dan hasil laut, batubara dan nikel.

Neraca nilai ekspor impor kopi Indonesia selama tahun 2017 memperlihatkan positif sebesar 20,27%, sedangkan neraca volume menunjukkan 3,55% (Indonesia Eximbank, 2019).

Upaya menggenjot ekspor penting dilakukan untuk menciptakan devisa negara. Salah satu faktor yang mempengaruhi ekspor komoditi perkebunan termasuk kopi ialah kualitas atau mutu produk yang dihasilkan. Untuk itu penanganan pascapanen harus dilakukan dengan baik. Riil yang terjadi bahwa petani kopi di Indonesia masih mengalami kendala dalam melaksanakan pascapanen yang baik. Menyadari akan hal ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus menerus melakukan fasilitasi sarana pascapanen untuk memperbaiki mutu hasil kopi petani, kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian (Mentan) dalam siaran persnya, Kamis (08/8/2019).

Amran menambahkan, Perbaikan pascapanen juga salah satu upaya untuk meningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan petani. Penanganan pascapanen yang baik akan meningkatkan nilai tambah dan juga mendorong perbaikan mutu produk.

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi sentra kopi di Indonesia dengan luas areal perkebunan kopi di Jawa Tengah tahun 2017 seluas 39.861 Ha. Dalam upaya mendukung pengembangan kopi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran melalui APBN untuk kegiatan pengembangan pascapanen kopi di Jawa Tengah sejak tahun 2011.

Fasilitasi pascapanen yang berupa sarana pascapanen kopi baik untuk pengolahan basah maupun kering dilakukan oleh pemerintah dalam upaya mendorong petani melakukan praktik pascapanen kopi yang baik dan benar (Good Handling Practices/GHP).

Dari fasilitasi sarana pascapanen yang dilakukan oleh Ditjen Perkebunan kepada kelompok tani kopi, telah memberikan kemajuan. Hal ini dapat di dilihat di beberapa kelompok yang telah melakukan kemitraan dengan pihak lain baik mitra lokal maupun supplier exportir serta telah memperbaiki pascapanennya.

Diantara beberapa kelompok tani yang telah menjalin kemitraan antara lain Kelompok Tani Tegal Makmur 2 yang ada di Kecamatan Jumprit, Kabupaten Temanggung telah menjalin kemitraan dengan Caf Sumber Sari Progo DIY, PT Toya Gesang Lestari dan Wali Limbung Caf.

Kelompok tani Sumber Berkah yang ada di Kecamatan Grabag, Kabuupaten Magelang yang telah menjalin kemitraan dengan Cipta Kopi Magelang serta Kub Mandiri Sejahtera yang ada di Desa Ngrancah, Kabupaten Megelang yang telag bermitra dengan Kafe Warung Gunung Magelang, Harinco Craft Magelang, Griyo Dahar Soponyono Magelang, Cello Celli Coffee Jogjakarta dan Karya Petani Nusantara Jogjakarta. Selain kelompok tani tersebut, di Kabupaten Pemalang juga terdapat kelompok tani yang telah memiliki mitra dan kelembagaan yang baik, yakni kelompok tani Karya Harapan di Kabupaten Pemalang yang telah memproduksi kopi Gurilang.

Namanya kopi Gurilang, singkatan dari Gunung Sari Pemalang. Gurilang memang salah satu produk kopi unggulan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Asal nama gurilang adalah gabungan dari nama desa tempat produksi kopi, Desa Gunungsari dan Kabupaten Pemalang.

Kopi ini diproduksi oleh kelompok tani Karya Harapan, yang didirikan pada tahun 2004. Kelompok tani ini dinahkodai oleh Fajar Budiyuwono. Selain kopi bubuk dengan merk Gurilang, kelompok tani ini juga telah memproduksi Cascara Tea, Parfum Kopi, dan Masker Kopi. Saat ini Gurilang Kopi telah bermitra dengan Legita Cafe yang ada di Kota Pemalang dan dan juga Tana Merah Caf yang dimiliki buyer dari Korea.

Fajar Budiyuwono, menyatakan bahwa awalnya, yaitu tahun 2004, kopi di Desa Gunungsari belum dikelola masyarakat dengan baik, pemetikan juga masih seenaknya, dalam arti kopi yang masih hijau sudah dipetik asalkan buahnya sudah keras. Melihat kondisi ini, Fajar yang merupakan putra Desa Gunungsari dan juga alumni Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang dilaksanakan pemerintah merasa terpanggil untuk memperbaiki kopi yang ada di desanya.

Dari bekal ilmu yang dimiliki selama mengikuti SLPHT, Fajar kemudian mengajak pemuda-pemuda desa untuk memperbaiki kondisi kopinya. Pada awalnya kelompok menjual buah merah kopi kepada pengepul di Kabupaten Wonosobo dengan hargaRp. 2000/kg untuk kopi jenis robusta dan Rp. 3.000/Kg untuk kopi jenis Arabica. Kondisi ini berlangsung sampai dengan tahun 2010. Mulai tahun 2011, Fajar dan teman-teman kolompoknya mulai berfikir untuk memproduksi greenbean karena harga kopi saat itu mulai meningkat.

Setelah mencoba menggali informasi, pada tahun 2014 Kelompok Tani Karya Harapan mencoba mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa untuk bantuan sarana pascapanen kopi.

Kami mencoba usul kepada pemerintah kabupaten dan diteruskan kepada provinsi untuk meminta bantuan alat pascapanen kopi, Alhamdulillah Akhirnya tahun 2015 ada bantuan Fasilitasi Sarana Pasapanen dari Ditjen Perkebunan melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, ungkap Fajar di sela-sela kesibukannya mengawasi pekerjanya Bantuan Ditjen Perkebunan tahun 2015 berupa Huller (1 unit), Pulper (1 unit), Timbangan Duduk (1 unit), Para-para dan terpal ( 8 buah), Alat Ukur Kadar Air (1 unit l), dan Bangunan UPH sebanyak 1 unit.

Fajar menambahkan bahwa kelompoknya memulai semuanya dari 0 (nol). Saat ini kelompok sudah memiliki kepengurusan yang baik dan juga telah memilliki koperasi dengan nama Karya Mandiri Sejahtera.

Anggota tetap koperasi saat ini berjumlah 83 orang dengan kas yang dimiliki mencapai lebih dari 200 juta rupiah. Modal awal koperasi diawali dari iurang pokok anggota sebesar Rp. 50.000, simpanan wajib sebesar Rp.15.000/bulan. Modal awal saat itu yang diperoleh sebesar Rp.625.000 dan digunakan untuk membeli buah kopi merah dari anggota dan membeli pulper untuk mengolah kopi, Alhamdulillah harga dan pemasaran kopi makin baik sehingga seperti saat ini, tuturnya.

Dari aspek legalitas kelompok tani ini telah memiliki SK Kemenkum dan HAM No. AHU-0007176.AH.01.07 Tahun 2015 dengan luas areal kebun kelompok seluas 50 Ha. Bentuk produksi sebelum ada fasilitasi pascapanen buah basah dengan jumlah 100 Ton/tahun dengan harga Rp. 3.000/kg.

Bentuk produksi setelah difasilitasi alat dan bangunan pascapanen kelompk tani ini memproduksi Greenbean Arabica per tahun antara lain greenbean Arabica sebanyak 7 Ton, dengan harga Rp. 80.000/kg. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk produksi per kg sebesar Rp. 1.500.

Dalam mengelola kelompok dan koperasi bukan tanpa kendala, banyak kendala yang dihadapi, demikian Fajar mengatakan kepada tim pascapanen. Kendala yang dihadapi salah satunya ialah kapasitas sarana pascapanen kopi yang saat ini dirasakan makin terbatas, karena semakin banyak permintaan akan kopi gurilang kepada kelompok tani ini. Kami masih membutuhkan huler, pulper dan tempat penjemuran yang lebih besar mengingat permintaan yang semakin meningkat, terangnya.

Kami berharap pemerintah dapat mensuport kami untuk meningkatkan skala usaha. Selain itu, kami disini juga mengalami kesulitan dalam memperoleh sumber air yang bagus, air yang kami gunakan untuk memproses kopi secara full wash kami peroleh dengan membeli air Rp. 40.000/meter kubik, pungkasnya. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *