FGD Sawit Berkelanjutan: Diskusi Sawit Bagi Negeri Vol 3 dengan tema Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia yang diadakan Majalah InfoSAWIT di Jakarta/ist

Replanting dan ISPO Kunci Perbaikan Tata Kelola Perkebunan Sawit

Agrofarm.co.id-Deputi Menko Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Musdhalifah Machmud mengungkapkan, pihaknya sedang melakukan proses perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit dengan menerapkan berabagai cara salah satunya dengan memperbaiki pola budidaya yang dilakukan petani lewat program peremajaan sawit rakyat (replanting).

Adapun pogram ini bertujuan selain untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat juga guna melakukan pandataan luasan lahan petani.

“Data pekebun saat menjadi penting, dan kami sedang melakukan kerjasama dengan lembaga terkait seperti BIG dan Kementerian terkait,” katanya dalam acara FGD Sawit Berkelanjutan: Diskusi Sawit Bagi Negeri Vol 3 dengan tema Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia yang diadakan Majalah InfoSAWIT di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Lebih lanjut kata Musdhalifah, merujuk informasi dana hibah untuk program peremajaan sawit rakyat hingga tahun 2019, sebanyak 28.276 ha telah mendapatkan Dana PSR, lantas sekitar 39.989 ha proses penyaluran Dana PSR di BPDPKS dan sejumlah 16.960 ha dilakukan verifikasi bertahap melalui Aplikasi PSR.

Selain penerapan peremajaan sawit rakyat, komitmen pemerintah terhadap lingkungan juga dilakukan misalnya dengan penerapan kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang mana semenjak 2011 sampai 2019 realisasi Perkebunan Kelapa Sawit yang tersertifikasi ISPO seluas 4.115.434 ha atau 29,3% dari total lahan Perkebunan Kelapa Sawit 14,3 juta ha. Sedangkan produksi CPO yang telah tersertifikasi ISPO mencapai 11,57 juta ton CPO atau 31% dari total produksi CPO 37,8 juta ton/ha.

Sementara itu, Managing Director Sustaiability and Strategic Stakeholder Engagement Golden Agri Resources Ltd, Agus Purnomo menjelaskan, tekanan terhadap sektor perkebunan kelapa sawit bisa dibagi dalam tiga kelompok, pertama dari pemerintah para konsumen minyak sawit salah satunya berupa muculnya kebijakan RED II dari Uni Eropa serta hambatan dagang lainnya.

“Kemudian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berupa isu deforestasi, hak asasi manusia dan sosial serta limbah. “Kelompok ketiga datang dari koknsumen berupa isu kesehatan yang kembali dihembuskan,” ujar Agus.

“Namun demikian di beberapa negara mulai muncul kesadaran dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan, seperti inisiasi yang dilakukan India dengan Sustainable Palm Oil Coalition for India (India-SPOC) dan Jepang,” tambahnya.

Kondisi demikian membuka peluang dalam pemasaran minyak sawit berkelanjutan, dengan potensi itu kata Agus, pihaknya untuk terus memproduksi komoditas sawit yang berkelanjutan.

“Cara yang dilakukan dengan pendekatan bantuan teknis dan insentif keuangan, untuk program peremajaan kebun sawit yang dikelola petani swadaya. Kami mendukung misi pemerintah Indonesia untuk meremajakan 200,000 ha lahan perkebunan rakyat,” terangnya.

Untuk dukungan itu pihak perusahaan menetapkan target dukungan sebesar 17.5% (35,000 ha) dari target tersebut, melalui program peremajaan petani yang berada di sekitar kebun, meningkatkan produktivitas petani sebesar 5-6 ton CPO/ha/tahun, serta menciptakan proses produksi dan konsumsi yang berkelanjutan melalui kerjasama multi pihak (SDG 12 and 17).

Imam A. El Marzuq dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mengungkapkan, produsen minyak sawit berkelanjutan di dunia dikuasai oleh tiga produsen yakni Indonesia, Malaysia dan Tahiland.

Dalam skim produksi Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) yang diterapkan pada RSPO, tidak hanya berofokus memaksimalka produksi tetapi juga melibatkan preservasi dan proteksi lingkungan.

“Saat ini Indonesia dan Malaysia masih menjadi produsen utama minyak sawit berkelanjutan. Di Indonesia mencerminkan para pengusaha perkebunan temasuk pekebun kecil dan skema kemitraan dan swadaya terus bergulir dilapangan, kendati ada hantaman dari berbagai sisi, ini membuktikan keunggulan minyak sawit Indonesia masih teruji,” kata Imam.

Lebih lanjut kata Imam, pada tahun 2023 RSPO menargetkan produksi minyak sawit berkelanjutan di dunia bisa mencapai 23 juta ton, serta mendorong penyerapan minyak sawit berkelanjutan di dunia. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *