Kegiatan Pawai Bebas Plastik, yang diadakan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kawasan Kota Tua/ist

MONSTER PLASTIK MUNCUL DAN ANCAM BUMI

Agrofarm.co.id- Kondisi sampah di Indonesia saat ini sangat mencekam. Dari 60 juta ton sampah yang dihasilkan, 15 persennya merupakan sampah plastik yang tidak hanya membanjiri tempat pembuangan akhir, namun juga lautan Indonesia. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2018, 87 kota pesisir di Indonesia memberikan kontribusi 2 juta ton sampah plastik ke laut. Banyaknya dan besarnya ancaman dari sampah plastik digambarkan melalui sosok monster, sebuah kekuatan besar yang siap menghancurkan bumi.

Sosok monster plastik berupa mahluk laut dengan tinggi 4 meter akan muncul dari laut Jakarta dan bergerak mengancam Ibu Kota. Kemunculan Monster Plastik terjadi pada tanggal 20 Juli 2019 di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta dan akan bergerak dalam pawai di Bundaran Hotel Indonesia hingga kawasan Monumen Nasional (Monas) pada tanggal 21 Juli 2019.

Monster Plastik merupakan sosok yang lahir dari jutaan ton akumulasi sampah plastik di laut Indonesia akibat ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sosok ini merupakan momok menakutkan terhadap keberlangsungan hidup alam dan umat manusia di bumi. Monster plastik merupakan ancaman nyata yang saat ini tengah kita hadapi. Perubahan perilaku masyarakat Indonesia untuk berhenti menggunakan plastik sekali pakai merupakan kunci utama menurunkan volume sampah di Indonesia. Tidak ada kata selain berhenti menggunakan plastik sekali pakai, jelas Bustar Maitar, Pembina Yayasan Econusa dalam rilis yang diterima Agrofarm, Sabtu (20/7/2019).

Prita Laura, Ketua Harian Pandu Laut Nusantara, Masyarakat perlu disadarkan bahwa gaya hidup kita sehari-hari yang menghasilkan banyak sampah sebenarnya sedang membangun sebuah monster raksasa yang menakutkan yang akan merusak kehidupan kita sendiri. Monster plastik ini adalah musuh bersama yang mengancam kehidupan kita. Itu sebabnya kita harus sama-sama mengalahkannya. Masing-masing kita punya senjata untuk mengalahkannya. Jika pemerintah senjatanya adalah kebijakan, maka kita sebagai masyarakat senjatanya adalah mengubah gaya hidup yang tidak menggunakan plastik sekali pakai. -.

Plastik sekali pakai adalah monster yang ekstra jahat. Meskipun hanya menyumbang kurang dari 10% produksi plastik nasional, namun plastik sekali pakai ternyata berkontribusi terhadap mayoritas polusi di laut. Ironisnya plastik adalah materi kuat yang tahan ratusan tahun, tapi malah dirancang untuk dipakai hanya 30 menit lalu dibuang. Ini tidak masuk akal, dan ini harus disudahi,” harap Tiza Mafira, Founder Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik

Dalam laporan Greenpeace berjudul Sebuah Krisis Kenyamanan yang diluncurkan tahun lalu, bisnis perusahaan barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods) termasuk produk makanan, tumbuh sebesar 1-6 persen per tahun. Ini artinya volume sampah kemasan plastik akan terus bertambah. Mengingat tingkat daur ulang yang sangat rendah, maka harus ada tindakan nyata dari produsen dan pemerintah untuk mengendalikan suplai plastik sekali pakai dengan cara menerapkan ekonomi sirkuler khususnya lewat konsep penggunaan kembali (reuse),papar Muharram Atha Rasyadi, juru kampanye urban Greenpeace Indonesia.

Saat mengumpulkan sampah di perairan Teluk Jakarta, Divers Clean Action menemukan sebesar 63% dari sampah non-organik adalah plastik sekali pakai. Sampah shampoo, makanan, minuman, bungkus obat, dari puluhan tahun lalu seringkali ditemukan masih dalam kondisi baik di lautan. Ketika produksi sampah ini terus meningkat dan tidak didaur ulang maka sangat mungkin plastik sekali pakai ini masuk ke laut dan berakhir menjadi mikroplastik. Di Bali, kami menemukan 1 partikel mikroplastik dalam 300 hingga 3000 liter air laut serta timbunan sampah kemasan plastik sekali pakai di pesisir pantainya mencapai 30.50% hingga 74.89% banyaknya dari total sampah yang ditemukan. Tingginya jumlah sampah plastik di Bali ini berpotensi merusak wisata bahari Indonesia,ujar Switenia Founder & Executive Director Divers Clean Action

Sementara khusus untuk kondisi Jakarta Keadaan Jakarta darurat sampah disebabkan tidak berjalannya aturan dan kebijakan sampah secara nasional maupun di daerah. Lebih dari sepuluh tahun lalu, yakni sejak keluarnya Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 mengakui bahwa pengelolaan sampah belum sesuai dengan metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Lebih lanjut, meskipun secara nasional kita telah memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2012 yang didalamnya memerintahkan produsen wajib menggunakan bahan baku produksi yang dapat diguna ulang dan menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk diguna ulang, juga belum berjalan karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan belum mengeluarkan kebijakan teknis sesuai dengan perintah PP tersebut. Keadaan yang sama juga terjadi di Jakarta, di mana Pemerintah Daerah (Pemda) tidak maksimal menjalankan Perda Nomor 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah,” Tubagus Soleh Ahmadi, WALHI Jakarta menjelaskan

“Sebelum terlambat kita harus menentukan sikap apakah mau menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi. Melalui keterlibatan Indorelawan dalam gerakan monster plastik kami ingin dapat mengakomodir suara mereka yang ingin menjadi bagian dari solusi. Mari kita gerakkan perubahan bersama sama,” ajak Maritta Rastuti, Direktur Eksekutif Indorelawan. ir/rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *