Tanaman jagung manis/ist

Antisipasi Hama Spodoptera Frugiperda pada Tanaman Jagung Manis

Agrofarm.co.id-Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya dikenal sebagai pemasok sayuran di Kalimantan Barat, khususnya jagung manis. Daerah ini merupakan penghasil jagung manis terbaik di provinsi ini. Setidaknya terdapat lahan sekitar 300 – 500 hektare budidaya jagung manis sepanjang musim sehingga menjadi salah satu komoditas unggulan bagi Kubu Raya.

Kelompok Tani Sumberjaya mengatakan bahwa selama ini pengendalian OPT dilakukan secara preventif dengan merendam benih dengan fungisida serta aplikasi Trichoderma dan pupuk kompos yang cukup banyak pada saat pengolahan lahan.

“Iya kami baru saja diberikan sosialisasi bersama dengan POPT dan PPL untuk melakukan rotasi tanam selain jagung manis. Lahan kami merupakan lahan gambut yang harus diberi kapur pertanian untuk meningkatkan pH. OPT yang menyerang selama ini yaitu layu Fusarium dan bakteri serta hawar daun dengan intensitas ringan,” ujar ketua Kelompok Tani Sumber Jaya, Yatmoko dalam keterangannya, Selasa (16/7/2019).

Pada kesempatan ini, fungsional POPT Direktorat Perlindungan Hortikultura, Ginting Tri Pamungkas menyampaikan sosialisasi terkait adanya ancaman hama ulat Spodoptera frugiperda yang berasal dari Amerika Serikat (AS).

“Kerusakan akibat hama ulat itu jauh lebih besar daripada hama ulat yang sudah ada di Indonesia. Hama ulat itu bisa masuk Indonesia yang beriklim tropis. Hama ulat yang berasal dari negara luar itu berpotensi menimbulkan kerusakan pada tanaman jagung, padi, dan gandum. Penyebaran hama ulat Spodoptera frugiperda bisa melalui perdagangan sayur mayur dan buah-buahan antarnegara,” ujar Ginting.

Apalagi, kata Ginting, ulat ini sangat cocok hidup dan berkembang biak di Indonesia dengan iklim tropis. Berdasarkan pemantauan dari Badan Karantina Pertanian, ulat ini telah ditemukan pada pertanaman jagung di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Mengingat luasan pertanaman jagung manis yang mencapai ratusan hektare, perlu diwaspadai kemungkinan masuknya OPT ini untuk mencegah kerusakan yang lebih parah dari serangan OPT ini.

Ciri penting Spodoptera frugiperda yaitu terdapat garis mirip huruf Y terbalik pada kepala. Selanjutnya terdapat 4 buah bintik yang besar (pinacula) pada abdomen segmen 8 (A8) dan memiliki 3 garis pada bagian atas tubuh, yaitu sebuah pada dorsal dan pada masing masing sub dorsal, serta memiliki garis tebal seperti pita pada lateral tubuh.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan di antaranya adalah penggunaaan benih dan varietas yang baik, bersertifikat dan bebas dari penyakit. Selanjutnya dilakukan penanaman serempak untuk mencegah tersedianya inang yang disukai ulat ini secara terus menerus.

Pemupukan organik yang cukup perlu dilakukan sehingga kondisi tanah baik untuk mendukung pertanaman yang optimal. Selanjutnya dilakukan penganekaragaman pertanaman dengan metode tumpang sari atau penanaman refugia di dekat tanaman utama untuk mengecoh imago sebagai repellent dan sebagai konservasi musuh alami.

“Iya tentunya tindakan pencegahan dan antisipasi pengendalian OPT ini tetap mengedepankan prinsip PHT dengan menggunakan agens hayati, musuh alami dan penggunaan biopestisida,” ujar Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijay anti Yusuf saat ditemui terpisah. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *