foto ist

Rekomendasi Greenpeace Soal Kerangka Aksi ASEAN Tentang Sampah di Laut

Agrofarm.co.id-Deklarasi Bangkok dan Kerangka Aksi ASEAN tentang Sampah di Laut menunjukkan bahwa aksi kolektif regional dapat merespons persoalan bersama. Tetapi kedua kesepakatan tersebut gagal mengatasi masalah pencemaran plastik pada akarnya, karena lebih fokus pada pengelolaan limbah ketimbang tindakan untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai sehingga tidak berakhir sebagai sampah. Demikianrilis Greenpeace Southeast Asia-Indonesia yang diterima, Senin (24/6/2019).

Plastik adalah masalah polusi, bukan sekadar masalah sampah. Plastik harus ditangani sepanjang siklus hidupnya, mulai dari produksi, konsumsi hingga akhir siklus hidupnya. Membatasi ruang lingkup Kerangka Aksi untuk sampah di laut artinya hanya melihat permasalahan plastik pada ujungnya saja — setelah polusi plastik tercipta — seperti persoalan buruknya sistem daur ulang, pengelolaan, dan pembuangan limbah. Seharusnya semua negara ASEAN fokus ke hulu persoalan dengan secara drastis mengurangi produksi plastik sehingga dapat berimbas pada turunnya pencemaran akibat sampah plastik.

Walau telah menyentuh aspek inovasi dan alternatif, kerangka tersebut tidak memiliki visi untuk mengembangkan sistem yang tepat, yaitu bukan hanya sekadar mengganti kemasan dengan bahan sekali pakai lainnya. Dengan kemajuan teknologi, pemerintah ASEAN seharusnya berada dalam posisi untuk mengembangkan inovasi ‘lebih hijau’ untuk membantu memfasilitasi perubahan pola pikir pada plastik sekali pakai.

Untuk mengurangi polusi plastik secara efektif, baik di darat atau di laut, negara-negara ASEAN harus bertindak lebih fundamental daripada Kerangka Aksi ini dan mewujudkan kebijakan di dalam negeri masing-masing yang memastikan lebih sedikit plastik sekali pakai yang akan diproduksi. Hal ini dapat dilakukan melalui peraturan larangan plastik sekali pakai dan undang-undang yang akan memfasilitasi perancangan ulang sistem pengemasan dan pengiriman produk.

Yang paling mendasar, Kerangka Aksi ini gagal untuk mengatasi masalah impor sampah plastik. Negara-negara ASEAN telah berjuang melawan perdagangan sampah plastik yang memiliki konsekuensi ekologis dan sosial yang serius. Tidak adanya tindakan dari ASEAN tentang masalah perdagangan sampah plastik, termasuk untuk daur ulang, sangatlah mengkhawatirkan, padahal KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ini adalah waktu terbaik untuk membahas penyelesaiannya.

Greenpeace menegaskan kembali rekomendasi kami bagi ASEAN untuk:

  1. Menerapkan larangan segera pada semua impor sampah plastik, bahkan yang dimaksudkan untuk “daur ulang” dan memastikan semua negara ASEAN meratifikasi Amandemen Konvensi Basel tentang perdagangan sampah plastik;

  2. Menetapkan kebijakan regional yang holistik untuk mengurangi produksi kemasan dan produk plastik sekali pakai secara masif, serta memfasilitasi inovasi pada kemasan yang dapat digunakan kembali dan sistem pengiriman alternatif;

  3. Memajukan kerangka ekonomi sirkular yang berkelanjutan, etis, dan berdasarkan pada pendekatan nol sampah (zero waste) yang melindungi kesehatan manusia dan lingkungan, serta memungkinkan kawasan ASEAN untuk memisahkan pertumbuhan ekonomi dari ekstraksi, produksi, konsumsi, dan pemborosan sumber daya yang berlebihan. ir/rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *