Direktur Corporate Affairs Asian Agri Fadhil Hasan/ist

Sukses Kembangkan Kelapa Sawit, Afrika Ingin Belajar dari Indonesia

Agrofarm.co.id-Negara Afrika ingin belajar dari Indonesia dalam mengembangkan industri perkebunan kelapa sawit.

Hal itu diungkapkan Direktur Corporate Affairs Asian Agri Fadhil Hasan pada acara buka puasa bersama dengan media di Jakarta, Selasa (27/5/2019).

Asian Agri menjadi salah satu perusahaan kelapa sawit asal Indonesia yang menjadi pembicara dalam Seminar Africa Oil Palm and Rubber Summit yang diadakan di Kota Abidjan, Pantai Gading. “Acara ini digelar untuk menggenjot investasi di sektor perkebunan kelapa sawit di Afrika Barat,” ujar Fadhil.

Dia menyebutkan, saat ini sudah banyak investasi masuk Afrika yakni negera Eropa, India dan Singapura.

Dia menambahkan, sebagai negara asal muasal tanaman kelapa sawit, ecara turun temurun masyarakat Afrika telah menggunakan sawit untuk keperluan makanan, minyak dan sabun. “Mereka familiar dengan sawit ini, meskipun salah satu negara di Afrika Negeria mengimpor minyak sawit dari Indonesia,” terangnya.

“Saya diminta menceritakan success Story dari Indonesia dalam mengembangkan industri kelapa sawit. Memberi gambaran umum terkait kebijakan sawit di Indonesia baik dari segi perusahaan maupun petani kecil,” kata Fadhil.

Selain itu, katanya, pengalaman Asian Agri dalam pengembangan sawit melalui pola kemitraan dengan petani. Kemudian program biodiesel terkait skema insentif pembiayaan melalui Bdan Pengeloa Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS)

Isu lain menyangkut pembiayaan di sektor perkebunan sawit. “Indonesia berpengalaman dalam pemberian kredit likuiditas bank Indonesia atau kredit murah untuk perusahaan maupun koperasi. Ada juga skema pembiayaan perusahaan sawit besar dengan para petani,” terangnya..

Afrika tertarik dan ingin belajar dari Indonesia dalam mengembangkan industri perkebunan sawit. Meraka kagum dengan Indonesia karena mampu menjaga stabilitas politik, ekonomi dan sosial, lanjutnya.

Dia menuturkan, Afrika situasi politik tidak stabil, kondisi makro ekonomi menurun dan inflasi tinggi. “Ini dapat mengganggu iklim investasi sawit,” ujar Fadhil.

Apalagi orang Afrika malas bekerja dan tidak mau meningkatkan produktivtas kerjanya. “Imbasnya banyak perusahaan Singapura mengambil tenaga kerja asal Indonesia untuk dipekerjaan di perkebunan kelapa sawit yang mencapai 2 ribu oaring,” pungkasnya. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *