Hasbi Lubis, General Manager of PT Bosch Rexroth (Drive & Control)dan Toto Suharto, General Manager of PT Robert Bosch Automotive/ir

Dengan Perubahan Mindset, Bosch Optimis Indonesia Mencapai Industri 4.0

Agrofarm.co.id-Indonesia Industry 4.0 Readiness Index yang disingkat dengan INDI 4.0 merupakan program pemerintah yang ditargetkan membawa Indonesia masuk jajaran negara 10 besar ekonomi dunia pada 2030. Sebagai salah satu penyedia teknologi penggerak dan pengontrol terkemuka di dunia, Bosch optimis dengan target tersebut.

Hasbi Lubis, General Manager Bosch Rexroth di Indonesia mengatakan keseriusan pemerintah dan industri ini dapat dilihat dari besarnya investasi untuk industri 4.0. Namun, sebagai permulaan, Hasbi menekankan pada perlunya perubahanmindset.

“Industri 4.0 di indonesia lebih kepada perubahan mindset. dari berbagai studi kita lihat bahwa di indonesia kebanyakan masih industri 2.0. 3.0 itu memakai komputerisasi, 4.0 adalah connectivity dan Artificial Inteligence and beyond. Ada beberapa tahapan yang akan kita lalui bersama pemerintah untuk berjalan atau melompat dari 2.0 ke 4.0. Ini lebih ke bagaimana mengganti mindset dulu, bukan pada bagaimana mengimplementasikan aplikasi ini. jadi, kalau dibilang masih jauh, belum tentu juga, “kata Hasbi pada acara wawancara eksklusif di Hotel Santika ICE BSD, Tangerang beberapa waktu lalu.

Mengenai angka investasi yang harus dialokasikan oleh manufaktur/perkebunan untuk mengimplemenkan teknologi cerdas industri 4.0, Toto Suharto selaku General Manager PT Robert Bosch Automotive menjelaskan bahwa angka investasi baru dapat dihitung setelah melalui beberapa tahapan pembicaraan dengan customer untuk solusi industri mereka. Ada kalanya solusi yang ditawarkan harus customized, atau ada perangkat tertentu yang harus didapat dari perusahaan lain.

“Misal ada suatu pabrik menggunakan oli untuk pengetesan. kualitasnya harus dijaga supaya produknya bagus. Tapi si pengguna tidak tahu kapan harus mengganti olinya. Hanya menurut pengalaman dia, setiap bulan sekali. Baru disitu kita berbicara kita punya solusi, kita bisa memonitor kualitas oli ini. tidak harus ganti tiap bulan, kita bisa siapkan suatu sensor (software) dan secara keseluruhan bisa tahu kapan harus ganti oli secara maksimal. itu bisa mengurangi biaya penggantian oli. dari situ kita hitung, sensornya apa, softwarenya apa, kita hitung dan mungkin pegawai yang mengimplementasikanya berapa orang. Jadi agak sulit juga bagi kami memberikan angka, “jelas Toto

Menurut Toto, tidak ada hanya satu solusi saja yang bisa menjawab seluruh masalah IoT (Internet of Things), karena semua harus customized.”Jadi investasi nanti dihubungkan dengan berapa besar benefit yang bisa didapat oleh pabrik oleh perusahaan, “ujar Toto. Na

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *