Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita pimpin rapat industri unggas/ist

Kementan Minta Pelaku Usaha Jaga Ketersediaan Daging Ayam dan Telur

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) terus lakukan koordinasi bahas Strategi kebijakan mendukung usaha perunggasan nasional, sejak diberlakukannya Permentan Nomor 32 tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Alhasil diatur impor GPS, pengaturan distribusi DOC FS broiler untuk internal dan eksternal dengan perbandingan 50%:50%, kewajiban para peternak yang populasi live bird lebih dari 300.000/minggu untuk memiliki RPHU dan fasilitas rantai dingin (cold storage).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan, kebijakan ini telah banyak menciptakan kestabilan baik dari sisi produksi maupun harga, namun turunnya harga live bird pada awal tahun 2019, pemerintah bersama stakeholder mengharuskan untuk mengkaji kembali kekurangan dan kelebihan dari kebijakan tersebut.

“Pemerintah bersama stakeholders perlu menjaga ketersediaan daging ayam ras dan telur konsumsi sebagai barang kebutuhan pokok hasil peternakan,” ungkap Ketut dalam siaran persnya, Kamis (25/4/2019).

Lebih lanjut Ketut menyampaikan, Kementan mengumpulkan para stakeholders untuk mencari solusi terhadap permasalahan perunggasan di Indonesia.

Ketut menjelaskan bahwa pengaturan keseimbangan supply-demand di bidang perunggasan terutama dilakukan untuk perlindungan terhadap peternak, koperasi atau peternak mandiri, sehingga dapat tercipta iklim usaha yang kondusif dan berkeadilan.

“Penambahan dan pengurangan produksi ayam ras dapat dilakukan apabila terjadi ketidakseimbangan supply-demand,” tandasnya.

“Pemerintah posisinya selalu di tengah-tengah, bersama kita untuk mengawal dan memastikan berjalannya usaha perunggasan nasional yang sehat,” ujar Ketut.

“Adanya surplus produksi telur konsumsi, daging ayam dan capaian ekspor ke negara lain tidaklah membuat kita terlena dan berbangga, peluang ini perlu di sikapi dengan meningkatkan ekspor unggas dan produk unggas serta peningkatan industri pengolahan,” jelasnya.

Menurutnya, Industri perunggasan saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan protein hewani dalam negeri dan bahkan sudah diekspor. Sebagai gambaran produksi DOC FS broiler dan layer terus mengalami peningkatan dan pada tahun 2018 produksi DOC FS mencapai angka 3,15 miliar ekor.

Berdasarkan potensi produksi DOC FS tahun 2019 diperkirakan sebanyak 3,50 miliar ekor dengan rataan perbulan sebanyak 291 juta ekor atau setara daging ayam sebanyak 3,60 juta ton/tahun dengan rataan perbulan sebanyak 303 ribu ton. Proyeksi kebutuhan daging ayam tahun 2019 sebanyak 3,25 juta ton dengan rataan perbulan sebanyak 271 ribu ton.

Sehingga dari data potensi produksi dan kebutuhan tersebut diperkirakan tahun 2019 terdapat surplus daging ayam sebanyak 395 ton dengan rataan surplus perbulan sebanyak 32,9 ribu ton. Surplus atau cadangan daging ini guna mendukung upaya-upaya ekspor dan tumbuhnya industri pengolahan.

Pemerintah akan mendukung sepenuhnya bagi perusahaan ayam ras dalam negeri yang akan mengembangkan produknya untuk di ekspor dengan membantu mencarikan pasar ekspor untuk produk ayam ras dan hasil olahannya dan memberikan kemudahan dan insentif dalam pelaksanaan ekspornya. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *