Kementan Inisiasi Pembangunan Kebun Buah komersial Lahan Perhutani/ist

Kementan Inisiasi Pembangunan Kebun Buah Komersial di Lahan Perhutanan Sosial

Agrofarm.co.id-Setelah melihat keberhasilan kebun komersial dengan kemitraan swasta yang dibangun Kementerian Pertanian (Kementan) sejak 2016, saat ini Kementan berniat membangun kebun serupa dengan memanfaatkan lahan perhutanan sosial di Kabupaten Pemalang.

“Kementan melakukan kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memanfaatkan lahan perhutanan sosial sebagai kebun buah – buahan yang nantinya akan dijadikan sebagai wisata kebun buah,” ujar Plt Direktur Buah dan Florikultura, Sri Wijayanti Yusuf dalam keterangan resminya, Selasa (16/4/2019).

Direktur yang biasa dipanggil Yanti ini optimis jika kebun buah dikelola dengan optimal maka kelompok tani hutan akan merasakan hasil yang maksimal. Hal ini bisa merujuk kepada keberhasilan pengembangan pisang di Tanggamus dan lengkeng di Tuban. Produksi buah ini berkualitas sehinggaa akan memasok ke supermarket dan pasar ekspor.

“Kami akan bangun kebun buah di lahan perhutanan sosial di Kabupaten Pemalang dengan mengembangkan komoditas yang sesuai kondisi agroklimat dan dsukai pasar dengan pola kemitraan. Kali ini Kementan akan menggandeng Yayasan Obor Tani yang sebelumnya juga berperan sebagai mitra kita dalam pengembangan durian di Kebumen dan Pati,” jelas Yanti.

Berdasarkan survei, Yanti menyampaikan bahwa komoditas yang diprioritaskan di lahan tersebut adalah durian, meskipun secara teknis pengembangan bersama dengan lengkeng juga dimungkinkan. Tanaman sela di antara tanaman buah yang disepakati adalah nenas madu sebagai sumber penghasilan jangka pendek.

“Sebagai inisiasi, tahun ini Kementan akan memfasilitasi pembangunan kebun durian komersial di lahan perhutanan sosial tersebut seluas 10 hektare dengan pemeliharaan optimal dan mengusung konsep agrowisata,” papar Yanti.

“Sedangkan untuk benih nanas akan difasilitasi secara swadaya atau diupayakan dari dana APBD,” tambahnya.

Yanti menuturkan bahwa dari hasil survei ini akan ditindaklanjuti dengan pemetaan koordinat batas lahan, sosialisasi dan penetapan petani pelaksana oleh Pendamping Kelompok Perhutanan Sosial. Selain itu juga penandatanganan kerja sama antara semua pihak dalam pembangunan kebun komersial ini.

“Kami berharap inisiasi yang dilakukan Kementan ini ke depan dapat direplikasi ke daerah lain dan menjadikan lahan perhutanan sosial yang tidak produktif menjadi kebun agrowisata buah. Kegiatan ini tentunya mendongkrak produksi buah nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Yanti.

Beberapa waktu lalu tim dari Direktorat Buah dan Florikultura bersama – sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang, pendamping Kelompok Perhutanan Sosial, Kelompok Perhutanan Sosial dan Yayasan Obor Tani selaku calon mitra pendamping teknis dan pemasaran melakukan koordinasi dan survei lokasi di Desa Simpur, Kec. Belik, Kab. Pemalang.

Sukardi, Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang menjelaskan bahwa lahan perhutanan sosial yang memiliki luas 739 hektare dan ketinggian 280 – 650 m dpl ini sangat cocok untuk pengembangan buah – buahan.

“Dengan mempertimbangkan aspek teknis, lahan ini cocok untuk dikembangkan tanaman buah – buahan seperti durian, lengkeng, pisang dan nenas. Selain itu juga tanaman sayuran dan jagung tumbuh dengan baik di lokasi ini,” tambah Sukardi.

Lebih lanjut, Sukardi menyampaikan bahwa dari aspek sosial kelompok pengelola perhutanan sosial telah mempunyai pengetahuan dasar budidaya pertanian dan siap mendukung Kementan dalam mengembangkan kebun buah.

“Segala kemungkinan yang terkait dengan pelaksanaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 39 Tahun 2017 tentang Perhutanan Sosial, yang mengatur skema kerja sama menjadi tanggung jawab kelompok pengelola perhutanan sosial tersebut,” paparnya.

Pihak Yayasan Obor Tani memberikan rekomendasi terhadap pemilihan komoditas durian dan nenas tersebut sesuai dengan agroklimat. Kedua jenis buah ini disukai masyarakat dan mempunyai potensi pasar yang besar.

Secara teknis lokasi lahan ini sangat memungkinkan untuk pembuatan embung dengan kapasitas volume air 8 ribu kubik. Embung ini dapat dialirkan dengan menggunakan gaya gravitasi ke lahan. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *