Ketua Umum KTNA Winarno Tohir dalam acara Peluncuran Buku “Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani” di Hotel Aston Priority Simatupang Jakarta/ist

KTNA : Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani

Agrofarm.co.id-Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mendorong penerapan pertanian presisi guna meningkatkan keuntungan petani.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum KTNA Winarno Tohir dalam acara Peluncuran Buku Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani di Hotel Aston Priority Simatupang Jakarta, Senin (15/4/2019).

Dia menjelaskan, spirit pertanian presisi adalah meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan ramah lingkungan. Meningkatnya efisiensi dan produktivitas, diharapkan dapat meningkatkan keuntungan petani.

“Dengan ramah lingkungan maka keuntungan itu berlanjut terus-menerus selama masa bertani. Jadi, dengan menerapkan pertanian presisi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Buku ini tidak hanya memaparkan usaha tani presisi (precision farming) yang meliputi penyemaian sampai dengan pemanenan padi, tetapi juga memaparkan pascapanen berupa pengeringan, penyimpanan, dan penggilingan gabah, serta penyimpanan beras.

“Sinergi usaha tani presisi dan pascapanen presisi inilah disebut dengan pertanian presisi (precision agriculture),” ujar pria kelahiran Indramayu Jawa Barat ini.

Menurutnya, dalam pertanian presisi setiap keputusan proses pertanian harus berdasarkan informasi yang akurat. Di sini diperlukan peran teknologi informasi dan komunikasi untuk mengumpulkan, memproses, dan menganalisis informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan. Data dan informasi yang dikumpulkan antara lain lahan pertanian, bibit, kandungan hara tanah, saluran irigasi, prediksi cuaca, data banjir, kebutuhan air tanaman, serta serangan hama dan penyakit

Dengan teknologi Global Positioning System (GPS) dan Geographic Information System (GIS), kita bisa menentukan karakteristik spesifik lokasi. Data GPS menekankan pada ketepatan posisi suatu lahan sementara GIS pada geografi atau karakteristik tanah dan lain-lain. Dari data GPS dan GIS ini dapat diketahui karakteristik lahan di suatu lokasi dengan lokasi lainnya. Meski satu hamparan belum tentu karakteristik lahan itu sama. Di sinilah pentingnya pertanian presisi, ungkapnya.

Dengan teknologi sensor dan Internet of Things (IoT), kita bisa mendapatkan informasi ketersediaan hara tanah, pH tanah, kelembapan tanah, kandungan air tanah, data suhu dan curah hujan, cuaca dan iklim, kebutuhan air tanaman, kebutuhan hara tanaman, dan sebagainya.

“Dengan drone, kita bisa mendapatkan informasi tanaman yang terkena hama dan penyakit,” kata pria yang akrab disapa dengan Pak Win.

Dengan bantuan teknologi microcontroler yang dipasang pada alat sensor, semua data lapangan yang diperoleh dapat dikirim ke server penyimpanan dan pengolahan data melalui internet. Data lapangan ini diolah dengan perangkat lunak tertentu agar menjadi informasi yang bisa digunakan kapan dan di mana saja untuk mengambil keputusan dalam aktivitas pertanian.

“Tetapi pertanian presisi saja belum cukup untuk mensejahterakan petani. Untuk itu diperlukan juga laporan tanaman prospektif yang menginformasikan prospek komoditas setiap awal tahun seperti yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Data ini dapat memberikan gambaran seberapa jauh peningkatan harga komoditas pada tahun berjalan,” tambahnya.

Berdasarkan prospek harga dan dikombinasi dengan penerapan pertanian presisi, petani dapat menghitung secara simulasi, berapa keuntungan yang bakal diperoleh sebelum menanam suatu komoditas. Tanaman jenis apa yang sebaiknya ditanam sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga harga jualnya relatif tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani?

“Kalau kita perhatikan paparan di atas, berarti penerapan pertanian presisi memerlukan investasi yang besar, baik investasi publik yang dilakukan pemerintah maupun investasi swasta yang dilakukan para petani padi. Apakah mungkin para petani padi melakukan investasi yang terbilang mahal untuk menerapkan pertanian presisi mulai dari usaha tani hingga pascapanen?,” ujar Winarno.

Pertanian Presisi Ala Indonesia

Karena itulah buku ini menggunakan istilah Pertanian Presisi ala Indonesia. Bahwa pertanian presisi jangan dikesankan sebagai pertanian yang selalu menggunakan teknologi canggih yang menelan investasi besar, baik investasi publik maupun investasi swasta.

Dalam mendapatkan informasi untuk mengambil keputusan dalam usaha tani dan pascapanen, dapat menggunakan teknologi yang tersedia pada saat ini. Tidak harus dengan teknologi yang piawai.

Misalnya untuk menentukan kapan mulai tanam, petani dapat berpedoman pada Kalender Tanam (Katam). Untuk mengetahui keadaan cuaca dan iklim, petani bisa mengakses informasi yang disajikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bahkan melalui Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, BMKG sudah melaksanakan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).

Pembajakan dan penggaruan tanah bisa dilakukan dengan traktor dan bajak yang tersedia pada saat ini. Begitu juga dengan takaran pemberian biodekomposer, pupuk organik, ataupun pupuk hayati. Jarak tanam bisa mengadopsi sistem jajar legowo. Sedangkan, manajemen air menggunakan metode macak-macak seperti dilakukan pada System of Rice Intensification (SRI).

Dalam penggunaan benih untuk spesifik lokasi, petani dapat mengandalkan benih hasil rakitan Balai Besar Tanaman Padi (BB Padi), Kementerian Pertanian. Untuk padi sawah irigasi ada varietas Inpari, padi rawa tersedia Inpara, dan padi gogo menggunakan Inpago. Selain itu, tersedia juga padi hibrida Hipa. Padi yang mampu tumbuh di lahan kering ataupun lahan basah dapat menggunakan varietas unggul padi amfibi seperti Limboto, Batutegi, dan Inpari 10 Laeya.

Untuk menentukan apakah tanaman padi sudah mencukupi atau belum kebutuhan hara Nitrogen (N) dapat menggunakan alat Bagan Warna Daun (BWD). Di Jepang lebih sederhana lagi. Datanglah ke sawah pagi hari sebelum matahari terbit. Jika ada daun padi yang mengerepyek ke bawah berarti tanaman padi itu kelebihan urea. Jika matahari sudah terbit, daun yang mengerepyek ini normal kembali, sama dengan tanaman padi yang tidak kelebihan urea.

Dalam menentukan takaran pupuk P dan K, misalnya, dapat menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) yang tersedia. Perangkat ini dapat mengukur ketersediaan hara P dan K di tanah dengan metoda kalometeri (pewarnaan).

“Dari hasil pengukuran ini, petani dapat menentukan takaran pupuk P dan K yang harus diberikan ke tanaman padi pada spesifik lokasi,” ungkap Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti.

Saat pemanenan padi, petani dapat mengoperasikan combine harvester. Pengeringan gabah memakai fasilitas mesin pengering baik tipe bak maupun tipe sirkulasi. Selanjutnya, penggilingan padi menggunakan rice milling unit atau rice milling plant. Agar petani memperoleh nilai tambah yang tinggi, dapat mendirikan Badan Usaha Milik Petani (BUMP).

Masalah pendanaan pertanian dapat diatasi dengan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR). Selain pembiayaan melalui KUR, petani dapat juga memanfaatkan fasilitas Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk menekan risiko kebanjiran, kekeringan, atau serangan hama dan penyakit.

Dia mengatakan, lebih penting lagi peran penyuluhan pertanian untuk mendidik para petani agar mampu menerapkan pertanian presisi dengan mengombinasikan penggunaan pelbagai teknologi yang sudah tersedia. Penyuluhan pertanian ini bernaung di bawah Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian.

“Jadi, menurut saya, Indonesia sudah sangat memungkinkan menerapkan pertanian presisi pada tanaman padi. Semua perangkat dan lembaganya tersedia, hanya saja belum disinergikan satu sama lain,” bebernya. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *