Presiden Jokowi meresmikan tiga kawasan ekonomi khusus (KEK) di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara/ist

Dorong Investasi Rp110 Triliun, Presiden Jokowi Resmikan Tiga KEK

Agrofarm.co.id-Pemerintah senantiasa mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah khususnya di bidang ekspor dan investasi. Untuk itu, Presiden Jokowi meresmikan tiga kawasan ekonomi khusus (KEK) di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara.

KEK tersebut yaitu Bitung, Sulawesi Utara; Morotai, Maluku Utara; dan Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK), Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pada kesempatan ini, Presiden juga meresmikan rumah susun mahasiswa Universitas Kristen Tomohon dan Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Manado.

Presiden RI Joko Widodo mengatakan, peresmian tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ditargetkan dapat menarik investasi Rp110 triliun dan menyerap 120.000 tenaga kerja. Ketiga KEK tersebut adalah KEK Bitung di Sulawesi Utara, KEK Morotai di Maluku Utara, dan KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kalimantan Timur.

Peresmian dihadiri Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan. Selain itu, hadir pula pejabat dari kementerian dan lembaga terkait, baik pusat maupun daerah.

Oke menjelaskan dalam mendukung percepatan pembangunan dan kegiatan usaha di KEK, Kemendag mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014, Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 serta Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2016 Tentang Fasilitasi Kemudahan di KEK.

Dalam peraturan tersebut, Kemendag akan mendelegasikan kewenangan penerbitan perizinan di bidang perdagangan luar negeri kepada administrator KEK.

“Kemendag telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan untuk mendelegasikan kewenangan penerbitan perizinan di bidang perdagangan luar negeri untuk ketiga administrator KEK. Hal ini untuk mendukung kegiatan serta penetapan instansi penerbit surat keterangan asal (IPSKA) pada administrator KEK morotai. Selain itu, Kemendag juga akan melakukan pelatihan peningkatan kapasitas administrator; klinik pelatihan terkait kebijakan ekspor, impor, dan surat keterangan asal (SKA); serta duplikasi aplikasi Inatrade,” terang Oke dalam keterangan resminya, Senin (01/4/2019).

Peraturan tersebut yaitu Permendag Nomor 49 Tahun 2018 tentang Pendelegasian Kewenangan Penerbitan Perizinan di Bidang Perdagangan Kepada Administrator Kawasan Ekonomi Khusus Bitung, Permendag Nomor 09 Tahun 2019 tentang Pendelegasian Kewenangan Penerbitan Perizinan di Bidang Perdagangan Kepada Administrator Kawasan Ekonomi Khusus Morotai, dan Permendag Nomor 51 Tahun 2018 tentang Pendelegasian Kewenangan Penerbitan Perizinan di Bidang Perdagangan Kepada Administrator Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan.

Oke menuturkan, menurut Presiden, KEK Bitung merupakan kawasan ekonomi yang fokus pada industri pengolahan perikanan yang menghasilkan komoditas ekspor berkualitas internasional.

Selain perikanan, KEK Bitung juga fokus pada industri kelapa beserta produk turunannya. Dengan luas sekitar 534 hektare KEK Bitung memiliki potensi ekspor produk hilirisasi yang dapat mendongkrak daya saing sektor perikanan, pertanian, dan farmasi. KEK ini ditargetkan dapat menarik investasi sebesar Rp32 triliun pada tahun 2025.

Dengan jarak sekitar 44 km dari ibukota Sulawesi Utara, KEK Bitung memiliki lokasi strategis yang dapat menjadi pintu gerbang ekonomi ke negara-negara di Asia Pasifik. Aksesnya didukung pelabuhan internasional Bitung sebagai hub perdagangan bagi kawasan timur Indonesia.

KEK Bitung diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan, dan distribusi barang, serta penunjang logistik di kawasan timur Indonesia. Sementara itu, KEK Morotai memiliki keunggulan geostrategis sebagai pulau terluar di sisi timur laut Indonesia yang dekat dengan negara-negara ASEAN dan Asia Timur.

Dengan luas area mencapai 1.101,76 hektare di Pulau Morotai, KEK ini dahulunya merupakan salah satu basis militer pada Perang Dunia II yang kaya barang peninggalan bersejarah. Selain itu, KEK Morotai memiliki keunggulan wisata bahari dengan keindahan pantai yang mempesona dengan hamparan pasir putih halus, air laut yang jernih, serta terumbu karang yang indah.

Hal ini dapat menjadi daya tarik dan diharapkan menjadi destinasi wisata internasional dengan perkiraan investasi pelaku usaha sebesar Rp30,44 triliun hingga tahun 2025.

KEK Morotai juga merupakan sumber bahan baku bagi industri pengolahan perikanan. Hal dikarenakan, kawasan ini dilintasi alur laut Kepulauan Indonesia III yang merupakan jalur migrasi ikan tuna. Kelebihan lainnya, kawasan ini didukung infrastruktur logistik yang akan menjadikan Pulau Morotai hub internasional di kawasan timur Indonesia.

Sedangkan KEK MBTK merupakan kawasan yang kaya akan sumber daya alam terutama kelapa sawit, kayu dan produk turunannya, serta berbagai produk energi pertambangan seperti industri mineral, gas, dan batubara. KEK MBTK diharapkan dapat mendorong penciptaan nilai tambah berbagai komoditas di wilayah tersebut dan ditargetkan dapat menarik investasi sebesar Rp34,3 triliun hingga 2025 serta meningkatkan produk domestik regional bruto Kutai Timur hingga Rp4,67 triliun/tahun.

Kawasan ini menempati luas area 557,34 hektare dan terletak pada jalur laut perdagangan internasional yang menghubungkan Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, kawasan ini dilalui jalur regional lintas trans Kalimantan, dan transportasi penyeberangan kapal feri antara TarakanTolitoli, dan Balikpapan-Mamuju.

Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Olvy Andrianita menambahkan, Kemendag akan mengoptimalkan peningkatan ekspor dan investasi di tiga kawasan tersebut. Kemendag bersama Sekretariat Dewan Nasional KEK menggandeng seluruh Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri untuk menjaring buyer dan investor.

“Ke depan strategi pengembangan ekspor dan industri pengolahan dan pembangunan kawasan logistik akan diprioritaskan di tiga kawasan tersebut sehingga produk Indonesia dapat bernilai tambah dan berdaya saing. Selanjutnya, pelabuhan Bitung akan menjadi hub internasional untuk penguatan ekspor di kawasan Timur Indonesia,” pungkas Olvy. Dian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *