Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (keempat kiri) memperhatikan robot yang digunakan PT Astra Otoparts Tbk. Divisi Winteq untuk memproduksi mobil pedesaan yang ditampilkan pada acara Industrial Summit 2018 dan Peluncuran Making Indonesia 4.0 di Jakarta/hms

Implementasi Industri 4.0 Tidak Meninggalkan Sektor Generasi Sebelumnya

Agrofarm.co.id-Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan era digitalisasi atau industri 4.0 merupakan transformasi yang harus dijalani dan tidak bisa dihindari. Dalam penerapan revolusi industri keempat ini, Indonesia tidak akan meninggalkan atau menggantikan sektor industri yang saat ini masih menggunakan teknologi di era industri generasi pertama hingga ketiga.

Meski saat ini pemerintah mendorong revolusi industri keempat, tetapi saya tegaskan bahwa sektor yang masih di industri pertama juga masih berjalan, termasuk pula yang di generasi kedua dan ketiga. Semuanya saling melengkapi dan berjalan seiringan, ucapnya di Jakarta, Minggu (10/2/2019).

Menperin menuturkan, industri generasi pertama yang masih ada di Indonesia, di antaranya berada di sektor agrikultur atau pertanian. Kemudian, industri generasi kedua seperti sektor pembuatan rokok kretek tangan dan industri batik yang menggunakan canting, hingga saat ini masih beroperasi. Terhadap sektor tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus mengembangkannya dengan lebih produktif dan inovatif, tuturnya.

Sementara itu, industri generasi ketiga, yang telah menggunakan mesin otomatis dengan melibatkan hubungan antara manusia dan mesin pun tidak akan ditinggalkan. Saat ini, Indonesia sedang siap memasuki revolusi industri keempat, dengan pemanfaatan teknologi digital, yang diproyeksikan akan menjadi lompatan besar bagi semua sector manufaktur.

Di industri keempat ini, mesin beroperasi sendiri, bukan human to machine lagi, tetapi machine to machine learning karena faktor intelektual yang diinput dalam program System Application and Product in data processing (SAP). Ini sudah masuk ke yang namanya artificial intelligence, jelasnya.

Airlangga menilai, implementasi industri 4.0 memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek rantai nilai di sektor industri, serta mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Tidak hanya dalam proses produksi manufaktur, industri 4.0 melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi dan produksi yang tinggi dengan kualitas yang lebih baik, terangnya.

Lebih lanjut, terkait dengan kekhawatiran tergantikannya tenaga manusia dengan tenaga mesin, sebenarnya terjadi pada saat revolusi industri ketiga, bukan pada revolusi industri keempat. Justru pada revolusi industri keempat atau era digitalisasi, akan butuh banyak pekerjaan di bidang analisa data atau artificial intelligence. Biasanya pekerjaan ini berhubungan dengan statistik, tandasnya.

Oleh karena itu, memasuki revolusi industri 4.0, pemerintah mendorong sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni melalui reskilling. Untuk memantapkan industri 4.0, vokasi dan retraining sangat diperlukan. Industri 4.0 adalah tantangan yang sangat baik bagi Indonesia karena dengan industri 4.0 akan menjadi lebih efektif dan produktif, imbuhnya.

Guna memacu peningkatan pendidikan vokasi industri untuk menunjang SDM kompeten dalam menghadapi era industri 4.0, Kemenperin telah menjalankan program link and match, dengan menggandeng sebanyak 2.074 SMK dan 745 perusahaan dari wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Selain itu dilakukan pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1, pembangunan infrastruktur kompetensi (SKKNI, LSP dan Sertifikasi Kompetensi), serta pembangunan pusat inovasi dan pengembangan SDM industri 4.0.

Kemampuan industri nasional

Airlanggamenegaskan, negara-negara di ASEAN sudah bergerak mengadopsi ASEAN 4.0 yang dipimpin Thailand. Sehingga sudah seharusnya Indonesia ikut mengambil bagian.Dalam pembahasanWorld Economic Forum (WEF) 2019, memang kuncinya adalah bagaimana kita membuat industriitusiap, tegasnya.

Bagaimana potensi Indonesia? Menperin menegaskan, sejumlah industri nasional telah mampu berdaya saing global di era digital. Perusahaan yang sudah menjadi percontohan dalam penerapan industri 4.0, di antaranya PT Schneider Electric Manufacturing Batam di sektor industri elektronika dan PT Chandra Asri Petrochemical di industri kimia.

Selanjutnya, PT Mayora Indah Tbk di industri makanan dan minuman, Sritex di industri tekstil dan pakaian, serta PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia di industri otomotif. Di industri-industri tersebut sudah diaplikasikan teknologi digital, seperti artificial intelligent dan internet of things.

Beberapa industri itu tidak hanya menjadi percontohan di Indonesia, tetapi juga bagi Singapura. Bahkan, mereka akan dijadikan sebagai lighthouse di negara-negara Asean lain, imbuhnya. Merujuk data WEF tahun 2017, Indonesia berada di peringkat kelima dunia, melalui peranan kontribusi sektor industri pengolahan kepada produk domestik bruto (PDB) nasional.

Negara-negara industri di dunia, kontribusi sektor manufakturnya terhadap perekonomian rata-rata sekitar 17 persen. Lima negara yang sektor industri pengolahannya mampu menyumbang di atas rata-rata tersebut, yakni China (28,8%), Korea Selatan (27%), Jepang (21%), Jerman (20,6%), dan Indonesia (20,5%). Artinya, PDB manufaktur Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan Asean.

Selain itu, apabila melihat indeks daya saing global, yang saat ini diperkenalkan metode baru dengan indikator penerapan revolusi industri 4.0, peringkat Indonesia naik dari posisi ke-47 pada tahun 2017 menjadi level ke-45 di 2018, ungkap Airlangga.

Lebih lanjut, menurutnya, industri 4.0 sangat penting karena mengingatkandunia industri untuk melakukancapital expenditure(capex) ataualokasi anggaran untuk perbaikan, misalnya melakukanperbaikanalat produksisertamodernsisasiagarbisa berdaya saing.Dari tahun 2000-an,China investasinyasudahbesar-besaran, sehingga menjadipowerhouse, ungkapnya.

Bahkan, negara-negara di duniayang berbasis manufaktur menilaibergulirnya era industri 4.0 sebagai hal penting karena akan menjadi peluangdalam mendorong pertumbuhan ekonominya. Hal ini tercermin daripenyiapan berbagai program dan kebijakan yang disusun dalam peta jalan mereka.

Awalnya Jerman yang mulai memperkenalkan industri 4.0 pada 4-5 tahun lalu. Kemudian negara-negara lain, termasuk di Asia ikut mengadopsi. Misalnya, India mempunyai Make in India dan Thailand punya Thailand 4.0, sebutnya.

Melihat perkembangan tersebut, Indonesia turut menyatakan kesiapannya untuk memasuki era industri 4.0. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran peta jalan Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018.

Di dalam roadmap, terdapat 10 program prioritas nasional yang akan dijalankan, dengan aspirasi besarnya adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030, ungkap Menperin.

Guna mendorong industri nasional berdaya saing global di era digital, pemerintah mendorong lima sektor industri untuk menjadi kunci, yakni eletronik, otomotif, kimia, makanan dan minuman, serta tekstil dan pakaian. Alasan Kemenperin memilih lima sektor itu, karena 60 persen pertumbuhan ada di sektor-sektor tersebut, kemudian ekspor paling tinggi ada di lima sektor tersebut, dan tenaga kerja di lima sektor itu pun sudah siap.

Airlanggamenambahkan, meski pemerintah telah memilih lima sektorpionir,bukan berarti sektor laintidak menjadi prioritas. Misalnya, industrisemenkapasitasnyasudah 100 jutaton per tahun, industribaja pun sudah terhubung dengan industri yang terkait, jelasnya. irsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *