Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) menolak penyetaraan Industri Kelapa Sawit dengan Industri Tembakau dan Alkohol/ist

MAKSI Tolak Artikel Buletin WHO yang Sudutkan Industri Sawit

Agrofarm.co.id-Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) sebagai asosiasi terbesar peneliti kelapa sawit Indonesia menolak penyetaraan Industri Kelapa Sawit dengan Industri Tembakau dan Alkohol.

Demikian Focus Group Discussion: Sikap Cendekiawan Sawit Indonesia terhadap Penyetaraan Industri Sawit dengan Industri Tembakau dan Alkohol untuk mengkaji lebih dalam dan menentukan sikap terhadap paper bertajuk The Palm Oil Industry and Noncommunicable Disesae yang dirilis oleh WHO 8 Januari 2019.

Paper yang ditulis oleh Kadandale, S., Marten, R., dan Smith, R. menyudutkan industri kelapa sawit yang menyetarakan industri kelapa sawit dengan industri tembakau dan alkohol karena memberikan dampak negatif kepada manusia dan kesehatan di bumi.

Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc ahli pangan UGM berkesempatan membedah paper tersebut secara sistematis dan ilmiah. Dimana banyak celah paper tersebut tidak berimbang dalam menyajikan data-data sekunder yang didapatkan, terlebih lagi konklusi paper tersebut tidak berkesesuaian dengan tujuan penelitian yang di sampaikan dibagian awal paper tersebut.

Senada dengan Prof. Sri Raharjo, Dr. Puspo Edi Giriwono sekretaris eksekutif SEAFAST Center LPPM IPB menyatakan bahwa paper tersebut tidak mengedepankan keberimbangan informasi terkait kelapa sawit bahkan bertolak belakang dengan penemuan-penemuan lain terbaru. Penelitian itu juga tidak menyasar kepada solusi tetapi lebih kepada membangun wacana bahwa kelapa sawit adalah sumber masalah dalam kemunculan penyakit tidak menular.

Cendekiawan Sawit Indonesia pada akhir diskusi yang terdiri dari para akademisi, peneliti kelapa sawit di bawah koordinasi MAKSI, semua sependapat bahwa artikel yang dipublikasikan pada Buletin WHO tersebut, BUKAN studi yang dilakukan oleh WHO, BUKAN pula kebijakan atau sikap resmi dari WHO. Disamping itu, penerbit paper tersebut (WHO) menyatakan tidak bertanggung jawab atas isi yang ada disetiap paper yang diterbitkan.

Paper tersebut ditulis bukan oleh peneliti sawit. Metode yang digunakan dalam penulisan paper tersebut menggunakan pendekatan sitasi data sekunder yang terlihat tidak sesuai dengan konten yang disadur. Disamping itu, penerbitan paper tersebut melalui proses peer-reviewed namun tidak diketahui apakah reviewer pada paper tersebut adalah peneliti sawit atau bukan. Sehingga paper yang dihasilkan melahirkan paper yang bias.

Cendekiawan Sawit Indonesia sependapat untuk menyatakan sikap menolak penyetaraan Industri Kelapa Sawit dengan Industri Tembakau dan Alkohol, dengan mempertimbangkan paper tersebut ditulis tidak menggunakan data yang berimbang antara dampak positif dan dampak negatif dari industrialisasi kelapa sawit.

“Kami (MAKSI) konsen dan mendorong seluruh stakeholder sawit untuk turut mensukseskan industri kelapa sawit yang berkelanjutan,” kata nKetua Umum MAKSI, Dr.Darmono Taniwiryono dalam keterangan resminya, Selasa (29/1/2019).

Dia pun mengajak seluruh peneliti sawit Indonesia untuk lebih banyak menulis pada jurnal-jurnal internasional antara lain IJOP (International Journal of Oil Palm) yang dikelola MAKSI untuk dapat mengemukakan fakta-fakta sawit sesungguhnya.

Serta mengajak awak media untuk lebih mengedepankan objektivitas dalam memberitakan informasi pada khalayak terutama terkait isu kelapa sawit sehingga bukan sekedar mempertimbangkan efek viral semata yang kemudian dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat. Bantolo

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *