(kanan-kiri) Direktur Sustainability APP Sinar Mas Elim Sritaba, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kirsfianti L. Ginoga, serta Kepala Tim ISPO Program KEHATI Irfan Bakhtiar sedang berbincang usai sesi diskusi di Paviliun Indonesia/ist

Pemangku Kepentingan Harus Bahu-membahu untuk CapaiTujuan Pembangunan Berkelanjutan

Agrofarm.co.id-Pemerintah terus mengembangkan riset dan inovasi yang bisa menggerakkan dunia usaha untuk berkolaborasi dengan masyarakat guna mencapai agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG)pada tahun 2030. Hal ini disampaikan olehKepala Pusat Litbang Hutan, Badan Litbang & Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Puslitbang Hutan KLHK) Kirsfianti L. Ginogadalam diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC)ke-24 yang berlangsung di Katowice, Polandia,Jumat siang (7/12/2018) waktu setempat.

Puslitbang Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkomitmen menghasilkan produk riset yang berdampak nyata dalam usaha pencapaian SDG. Di antaranya adalah pembangkit listrik tenaga air mikro (mikrohidro). Sebuah teknologi yang memungkinkan masyarakat di sekitar hutan untuk memperoleh akses energi listrik terjangkau dan mudah dirawat, ujarKirsfianti.

Produk riset lainnya yang berdampak langsung pada masyarakat adalah produk inokulasi pembentuk gaharu berbentuk tablet yang lebih terjangkau. Proses inokulasi yang dihasilkan bisa merangsang terbentuknya gubal gaharu yang bernilai tinggi di pasaran sehingga dapat memberikan keuntungan besar bagi masyarakat pembudidaya pohon gaharu.

Puslitbang Hutan KLHK juga sedang mengembangkan aplikasi fungi mikoriza untuk meningkatkan persentase hidup tanaman di lahan gambut. Mikoriza adalah simbiosis saling menguntungkan antara jamur dengan akar pohon.

“Aplikasi mikoriza dapat membantu merehabilitasi lahan gambut, meningkatkan produktivitas lahan, meningkatkan kualitas pohon yang sehat, sekaligus menghasilkan bahan pangan jamur,” tambahKirsfianti.

Sejalan dengan upaya pemerintah, APP Sinar Mas juga mengembangkan berbagai inovasi sebagai perwujudan komitmen terhadap tercapainya SDG. Salah satunya dengan menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang disebut program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program berbasis komunitas ini bertujuan mencegah kebakaran hutan dan deforestasi, sekaligus mengembangkan alternatif pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat, seperti di bidang pertanian pangan, hortikultura, peternakan, kehutanan dan perikanan.

APP Sinar Mas mengalokasikan dana sebanyak US$10 juta dalam program DMPA untuk dikelola sebagai dana bergulir oleh masyarakat di 500 desa. Program DMPA pertama kali diluncurkan pada COP UNFCCC ke-21 di Paris, Prancis tahun 2015, ujarDirektur Sustainability Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas Elim Sritaba.

Hasil pemantauan di 78 desa yang telah tergabung dalam program DMPA sejak 2016 membuktikan program ini memberikan dampak nyata. Sekitar 85% dari desa-desa tersebut mampu menekan angka kebakaran di tahun 2018 dibandingkan tahun 2016. Program DMPA juga berkontribusi dalam menjaga area hutan di sekitar kawasan desa.Saat ini, program DMPA telah berjalan di 267 desa.

Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, organisasi swadaya masyarakat, dan pelaku usaha lainnya sangat penting. Hanya dengan bekerja sama kita bisa mendapatkan solusi menyeluruh dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, tambahElim.

Ketua Tim Pembenahan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) Yayasan Kehati Irfan Bahktiar pun sepakat soal pentingnya kerja sama antara pemangku kepentingan. Hal ini terkait dengan program pembenahan yang sedang ISPO lakukan. PR besar kita semua adalah bagaimana institusi pemerintahan dapat bekerja sama dengan pelaku usaha dan masyarakat, ujarIrfan. irsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *