Wakil Ketua Umum III GAPKI bidang Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang/ist

2019, Harga CPO Diperkirakan USD 600-650 per ton

Agrofarm.co.id-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memprediksi harga minyak sawit mentah (CPO) pada tahun depan akan mencapai USD 650 per ton.

Wakil Ketua Umum III GAPKI bidang Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang memperkirakan, harga minyak sawit mentah (CPO) akan mencapai 540 – 550 USD per ton pada akhir tahun ini.

“Pada tahun 2019 harga diperkirakan naik rata-rata USD 600 – 650 per ton,” ujar Togar dalam acara 14th Indonesia Palm Oil Conference di Nusa Dua, Bali, Jumat (02/11/2018).

Menurutnya, Implementasi B20 akan menjadi pendorong utama dari market. Adanya rencana pemerintah untuk mempercepat implementasi B30 yang awalnya dilaksanakan di 2020 menjadi 2019. “Ini menjadi salah satu faktor pemicu meningkatkan harga sawit,” ungkap Togar.

Dia memperkirakan, stok minyak sawit Indonesia di akhir tahun akan menurun secara signifikan. Salah satu pemicunya, produksi sawit pada November hingga Desember akan turun.

Dorab E Mistry dari Godrej International Limited memuji perkembangan kebijakan biodiesel Indonesia, yang merupakan keberhasilan lobby para pemangku kepentingan sawit termasuk GAPKI

Kebijakan ini telah mengakibatkan industri sawit Indonesia menjadi dinamis. Faktor pendukung lain adalah penandatanganan kerjasama Indonesia dan India untuk mempromosikan ISPO ke pasar India. Secara umum, dapat dikatakan bahwa prospek Indonesia sangat cerah. Kondisi ini sangat berbeda dengan persoalan yang dihadapi Malaysia.

“Malaysia tertinggal jauh karena kesulitan menghadapi masalah ketenagakerjaan dan keterlambatan peremajaan kebun. Ini berdampak panen dan harga yang rendah,” kata Dorab.

Produksi minyak sawit pada 2019 diperkirakan terdampak oleh El Nino dalam intensitas sedang. Ini terjadi dengan biological low cycle yang akan mempengaruhi produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.

Kebutuhan energi dunia menunjukkan peningkatan yang baik. Demikian juga dengan peningkatan produksi pangan. Skenario pasokan minyak nabati dunia juga lebih baik di mana peningkatan lebih rendah.

Karena penumpukan stock, asumsi yang dipakai dalam membuat outlook diantara harga Brent. Harga brent crude sekitar USD 80-90 per barrel, dengan kemungkinan peningkatan suku bunga The Fed pada Desember 2018 dan 2019 serta pelambatan pertumbuhan GDP dunia pada tahun 2018.

Harga minyak sawit diperkirakan akan menyentuh harga paling rendah dan kemudian akan meningkat lagi. Future BMD akan mencapai 2100 ringgit dan membantu daya saing dari minyak sawit sehingga peningkatan naik.

“Jika harga minyak solar dan bensin naik, PME blending akan menjadi makin menarik. Sementara diharapkan RBD Olein akan berada di angka kurang dari USD 550 FOB,” jelas Dorab. Bantolo

One comment

  1. Dampak turunnya harga sawit mulai terasa dikalangan petani sawit. Harapan kami semoga harga sawit bisa naik kembali. Semoga blackcampn tentang sawit sdh selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *