Kementan Kembangkan Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan

Agrofarm.co.id-Direktorat Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) sedang mengembangkan Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan yang tersebar di 155 desa, di 23 Provinsi.

Adapun delapan jenis komoditas binaan yaitu kopi, kakao, teh, kelapa, aren, lada, pala, dan jambu mete. Dengan potensi poduksi masing-masing komoditi yaitu kopi 163 ton, gula aren 23 ton, jambu mete 23 ton, kakao 165 ton, pala 18 ton, teh 43 ton, lada 7 ton dan kelapa 5 ton.

“Saat ini kegiatan telah sampai pada tahap pendampingan untuk sertifikasi sebanyak 121 desa dan tahap sertifikasi sebanyak 34 desa,” kata Dudi Gunadi Direktur Perlindungan Perkebunan Kementan dalam keterangan resminya, Senin (12/11/2018).

Untuk produk-produk organik ini, mulai dilakukan penjajagan pasarnya dengan launching ekspor gula serbuk kelapa, gula serbuk aren dan kopi dengan nilai Rp 14,3 miliar.

Beberapa pasar potensi yang akan menjadi tujuan ekspor dari produk organik antara lain negara Polandia, UK, Newzealand, Italia, Philipina, Thailand, Saudi Arabia dan Switzerland.

Digitalisasi perdagangan

Pemasaran produk pertanian organik juga dilakukan melalui pengembangan digitalisasi perdagangan (E-Comers). Pengembangan E-comers mulai dilakukan pada petani kopi dan kelapa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta petani aren di Banten.

Dalam pengembangan desa pertanian organik petani juga mendapat alokasi bantuan alat-alat pengolahan dan ternak ruminansia besar atau ruminansia kecil. Perkembangan ternak ini cukup menggembirakan dengan rata-rata peningkatan populasi ternak dalam setiap tahunnya sebesar 20 persen.

Ternak selain menjadi tambahan penghasilan, dapat dimanfaatkan juga untuk memperbaiki kualitas asupan protein bagi petani, selain itu limbah kotorannya dapat dijadikan sebagai sumber pupuk dan agens pengendali hayati bagi petani.

“Sehingga tingkat ketergantungan petani terhadap input produksi yang tidak dikuasainya menjadi berkurang. Dengan kata lain terjadi efisiensi di tingkat usaha taninya,” jelas Dudi. Bantolo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *