Acara kontes ikan hias 2018, di Raiser Cibinong, Bogor/ist

Indonesia Berpotensi Menjadi Raja Ikan Hias Dunia

Agrofarm.co.id-Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengatakan hingga saat ini volume atau jumlah ekspor ikan hias Indonesia masih yang tertinggi di dunia, hanya saja secara nilai (value) memang kita masih kalah dengan Singapura.

Oleh karenanya, itulah pentingnya semua eksportir ikan hias bisa memanfaatkan raiser agar ikan hias yang akan di ekspor diseleksi dulu. Jadi harganya bisa berkali-kali lipat.

“Secara volume kita nomer satu, tapi memang secara nilai masih kalah. Karena ikan Indonesia yang diekspor belum semuanya masuk seleksi. Seperti ikan hias yang diekspor ke Singapura, ikan yang masuk dipilih dan seleksi baru diekspor lagi dengan harga yang jauh berkali-kali lipat,” Kata Rifky , saat menghadiri acara puncak bursa dan kontes ikan hias 2018, di Raiser Cibinong, Bogor, Minggu (14/10/2018).

Oleh karenanya, Rifky mengajak, para pengusaha eksportir ikan hias maupun pembudidaya bisa memanfaatkan Raiser agar ekspor ikan hias kita bukan hanya volumenya saja yang besar, tapi nilainya juga lebih besar. “Indonesia bisa jadi number one atau raja ikan hias dunia, asalkan ikan hias yang akan diekspor bisa diseleksi dulu jadi haraganya jauh bisa lebih besar,” sambungnya.

“Jika sudah masuk seleksi, kualitas ikan hias kita sama rata bagus, lalu langkah yang harus kita tempuh branding, kalau itu produk Indonesia. Jadi dunia ketika mencari ikan hias langsung datang ke Indonesia. Kalau sudah seperti itu, tidak mustahil kita jadi number one eksportir terbesar ikan hias dunia,” tegasnya.

Adapun untuk market atau pasar ikan hias dunia, pada 2017 nilai ekspor ikan hias mencapai USD 350,12 Juta atau naik (0,86% dibanding 2016) yang didominasi ikan hias air tawar (71,85%). Sementara, eksportir utama ikan hias air tawar global tahun 2017 adalah Singapura (15,03%), Jepang (12,96%), Myanmar (12,73%).

Sedangkan Indonesia menempati urutan ke-5 senilai USD 20,41 juta (8,11%). Adapun eksportir utama ikan hias air laut global tahun 2017 adalah Spanyol (39,31%), Belanda (12,69%), dan urutan ke-3 adalah Indonesia dengan nilai USD 7,2 juta (7,75%).

Sedangkan pasar ikan dunia, atau importir ikan hias air tawar global adalah USA (20,01%), UK (7,15%), dan Jerman (6,01%. Dan importir ikan hias air laut global adalah Belanda (14,06%), USA (13%) dan Italy (6%)

Sementara itu, nilai ekspor ikan hias Indonesia tahun 2017 sebesar USD 27,7 juta (naik 12,27% dibanding 2016) yang didominasi ikan hias air tawar (74%) seperti arwana, botia dan ikan hias air tawar lainny. Adapun Negara tujuan utama ekspor ikan hias air tawar adalah China (31,85%), Jepang (12,2%), Singapura (8,1%) dan USA (6,7%), sementara negara tujuan utama ikan hias air laut adalah USA (22%) dan China (15%).

Adapun hingga saat ini, sumbang sih komoditas ekspor ikan hias kita secara nilai masih Arawana, menyumbang 30 persen dari jumlah ekspor ikan hias nasional. “Saat insecara nilai masih Arwana masih jadi primadona ekspor ikan hias, disamping komoditas-komoditas yang lain,” paparnya.

Karena memang bicara ikan hias itu tergantung selera pasar. Seperti dulu boming ikan lohan, secara ikan discus. Nanti ada komoditas lain.

“Jadi poin pentingnya jika kita ingin menguasai pasar ikan hias dunia. Upaya yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan nilai jualnya bukan hanya sekedar main jumlah atau volume. Salah satu untuk meningkatkan nilai itu mari manfaatkan Raiser, agar ada quality control yang bagus jadi harganya bisa jaul lebih mahal,” tandasnya.

Seperti diketahui, hingga saat ini Indonesia memiliki Raiser yang ada di Cibinong, dan Sub Raiser di Blitar dan Yogyakarta. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *