El Nino, KLHK Tingkatkan Penanggulangan Karhutla

Agrofarm-Berdasarkan prediksi BMKG bahwa Bulan September November 2018 Indonesia akan mengalami El Nino lemah yang berati kemarau masih akan berlanjut, ini menuntut kesiapsiagaan semua pihak dalam upaya penanggulangan karhutla.

“Manggala Agni akan terus melakukan patroli terpadu sebagai upaya antisipasi karhutla dan akan tetap siaga menghadapi setiap potensi karhutla terutama pada musim kering di beberpa daerah rawan,” tegas Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),Rafles B. Panjaitan dalam siaran persnya, Jumat (14/9/2018).

Di Provinsi Riau, Manggala Agni KLHK Wilayah Sumatera Daops Dumai melakukan upaya pemadaman kejadian karhutla di lahan masyarakat yang terletak di Jalan Lintas Riau Sumatera Utara RT01/ RW 04, Dusun Sono Desa Rantau Bais Kec. Tanah Putih Kab. Rokan Hilir. Luas area terbakar sekitar 10 hektare (ha) dengan Jenis Kebakaran Bawah & permukaan.

Sementara itu di Provinsi Sumatera Selatan, Manggala Agni Daops Banyuasin melakukan upaya pemadaman kejadian karhutla di Desa Ibul 3, Kec. Pemulutan Kab. Ogan Ilir seluas 2 ha. Selanjutnya Manggala Agni Daops Ogan Komering Ilir (OKI) juga mengirimkan tim pemadam untuk memadamkan kejadian karhutla di Desa Lebung Batang Kec. Pangkalan Lampam dengan luas area terbakar 4 ha.

Kemudian untuk upaya penanggulangan karhutla di Provinsi Kalimantan Timur terdata cukup banyak upaya groundchek yang telah dilakukan oleh Manggala Agni Daops Sangkima. Dari 7 lokasi groundchek di Kabupaten Kutai Timur, kesemuanya ditemukan lahan terbakar dengan luasan antara 1 2 ha dan sebagian besar terjadi di lahan masyarakat, yaitu di Desa Benhes, Desa Lung Melah, Desa Senambah, dan Desa Rantau Pulung.

Selanjutnya di Provinsi Sulawesi Selatan, Manggala Agni Daops Malili posko Tana Toraja telah berhasil memadamkan kejadian karhutla yang terjadi di areal KHDT dan Hutan Lindung di Desa Tampo, Kecamatan Mengkendek seluas 2 ha.

Untuk informasi perkembangan penanggulanagan karhutla di Gunung Sindoro per tanggal 13 September 2018, tim pemadam telah berhasil memadamkan karhutla di Gunung Sindoro, tetapi karena dikhawatirkan api muncul lagi, sehingga masih ada tim pemadam yang berjaga-jaga untuk antisipasi.

Sementara di Gunung Sumbing kejadian karhutla per tanggal 13 September 2018 terjadi di kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Kemloko, Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Temanggung petak 27-3 (Desa Banaran, Kecamatan Tembarak) seluas 5 ha, dan di RPH Kecepit, BKPH Temanggung petak 20-1 (Desa Pagergunung, Desa Wonosari, Desa Wonotirto Kec. Bulu, Desa Glapansari Kecamatan Parakan, Desa Petarangan, Desa Jambu, Desa Batursari Kec. Kledung) luas area terbakar 75 ha.

Udara yg panas disertai angin kencang ditambah kondisi medan yang sulit untuk dijangkau serta ketiadaan sumber mata air menyebabkan kebakaran semakin meluas dan api sulit di kendalikan. Taksiran kerugian akibat kebakaran Gunung Sumbing sekitar Rp 12 juta.

Upaya penanganan yang sudah dilakukan diantarnya adalah konsolidasi petugas dilapangan, koordinasi dengan pihak/ instansi terkait, meminta bantuan pada masyarakat dan LMDH, membuat ilaran/sekat bakar, memadamkan langsung ke titik api, menutup semua jalur kegiatan pendakian, dan koordinasi dengan BNPB untuk melaksanakan pemadaman kebakaran dengan water boombing.

Sementara itu data hotspot berdasar Satelit NOAA sampai dengan tanggal 13 September 2018 jam 20.00 WIB, terpantau 34 titik di seluruh Indonesia. Dengan rincian Provinsi Riau 2 titik, Provinsi Jambi 1 titik, Provinsi Kalimantan Barat 7 titik, Provinsi Kalimantan Tengah 1 titik, Provinsi Kalimantan Selatan 1 titik, dan Provinsi Kalimantan Timur 17 titik. Total hotspot sampai dengan 13 September 2018 sebanyak 3.336 titik. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *