Peluncuran program perluasan B20/ist

Perluasan B20 Kurangi Emisi 6 Ton per Tahun

Agrofarm-Mandatori perluasan penggunaan bahan bakar biodiesel 20 persen atau dikenal sebagai B20 untuk kendaraan Non Public Service Obligation (PSO) berkontribusi dalam mengurangi emisi karbondioksida (CO2) hingga 6 sampai 9 juta ton per tahun dibanding dengan penggunaan solar murni (B0). Selain itu, dapat memperbaiki kualitas proses pembakaran kendaraan bermotor.

“Selain mengurangi emisi CO2, pembakaran dengan B20 juga lebih efisien dibanding penggunaan B0. Bahan bakar jauh lebih bagus, harga juga sama. Secara teknis juga tidak ada masalah. Uji coba yang dilakukan tahun 2014 lalu bahkan menunjukkan kinerja kendaraan yang tidak berubah signifikan dalam uji 40.000 km non stop,” ungkap Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana dikutip situs Kementerian ESDM, Senin (10/9/2018).

Dadan menyebut, meskipun nilai kalorinya sedikit lebih rendah, untuk pemakaian B20 tidak terlalu beda dalam konsumsi bahan bakarnya. “Dari beberapa uji coba, kenaikan konsumsi bahan bakarnya tidak banyak, hanya 1-2% saja,” ujarnya.

Lebih Lanjut Dadan menuturkan, tidak benar bila dikatakan biodiesel ini disebut sebagai penyebab kerak pada tangki bahan bakar. “Biodiesel merupakan senyawa ester yang bersifat melarutkan. Pemanfaatan biodiesel justru dapat membersihkan kerak dan kotoran yang tertinggal pada mesin, saluran bahan bakar dan tangki. Inilah yang menjadikan filter jadi cepat kotor di awal penggunaan B20. Setelah dibersihkan atau diganti, tidak akan ada masalah lagi. Mesin tidak akan rusak atau korosi,” katanya.

Permasalahan mungkin akan terjadi pada konsumen baru yang sebelumnya menggunakan solar non PSO yang berganti ke B20, seperti genset pabrik dan angkutan laut. “Perlu diantisipasi bagi pengguna baru yang sebelumnya memakai solar murni, ada kemungkinan filter yang kotor, itu hanya sekali atau dua kali,” ungkap Dadan.

Jadi, tegas Dadan, keperluan penggantian filter ini tetap sama dengan sewaktu menggunakan BBM tanpa biodiesel. “Untuk kendaraan truk, bahkan B20 sudah berjalan sejak 1 Januari 2016, jadi seharusnya sudah tidak ada masalah lagi terkait dengan filter,” tandas Dadan.

Terkait hasil uji yang dilakukan, Dadan menguraikan, kajian terhadap sistem bahan bakar dengan metode rig test, kompabilitas material, kestabilan penyimpanan dan uji pada mesin alat besar, diperoleh hasil bahwa implementasi B20 telah layak diterapkan tanpa memerlukan modifikasi mesin yang signifikan.

“Kalau masyarakat ingin bertanya lebih lanjut, ada call center Kementerian ESDM di 136 dan call center BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) 14036 siap menjawab pertanyaan seputar implementasi B20 ini,” pungkas Dadan. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *