Syamsul Maarif Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian (kiri)/ist

Kesehatan Hewan Syarat Utama dalam Pelaksanaan Pemotongan Kurban

Agrofarm-Kesehatan hewan kurban menjadi syarat utama yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban.

Syamsul Maarif Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan, Persyaratan hewan sehat ini menjadi sangat penting mengingat banyak sekali penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis).

“Dalam pemilihan hewan kurban harus dipastikan hewan tersebut sehat dan memiliki Sertifikat Veteriner atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan/SKKH yang dikeluarkan oleh daerah pengirim,” ujar Syamsul dalam Seminar dengan tema Penatalaksanaan Hewan Kurban yang Baik dan Benar di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan Bogor, Kamis (16/8/2018).

Dia menambahkan, Dalam rangka memberikan jaminan keamanan, kesehatan, keutuhan, dan kehalalan daging kurban, pemerintah melakukan pengaturan penanganan hewan dan daging kurban melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114/Permentan/PD.410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban.

Peraturan tersebut telah mengatur persyaratan minimal yang harus dipenuhi mulai dari tempat penjualan hewan kurban, pengangkutan dan penampunan sementara di lokasi yang akan dipergunakan untuk pemotongan hewan kurban serta tata cara penyembelihan hewan kurban dan distribusi daging kurban sesuai aspek teknis dan syariah Islam.

“Dengan memenuhi ketentuan teknis tersebut diharapkan daging kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat telah memenuhi persyaratan keamanan, kesehatan, keutuhan dan kehalalan,” jelas Syamsul.

Menurut H. Romli Eko Wahyudi, SKH, MM, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, dalam kurban sebaik-baiknya memenuhi empat syarat. Pertama, waktu penyembelihan, yaitu tanggal 10 Dzhulhijah setelah sholat dan mendengarkan khutbah, sampai tanggal 11, 12 dan 13 sampai maghrib.

Kedua, jenis hewan kurban adalah sapi, kerbau, kambing, domba, atau yang serumpunnya. Hewan ini harus cukup umur, sehat, tidak cacat, dan gemuk. Ketiga, penyembelihnya harus memenuhi syarat baligh, tahu ilmunya, dan terampil.

Keempat, penyembelihannya harus benar; alatnya tajam, terpenuhi syarat halalnya ( terpotong tiga saluran; darah, udara dan makanan).

Romli menuturkan, pada pelaksanaan kurban sering ditemukan perlakuan terhadap hewan sebelum disembelih yang kurang baik, kepanasan atau tempat makannya kurang, tempat penyembelihan yang terbuka atau belum mati sempurna sudah dikuliti.

Untuk menghindari hal tersebut, drh. Supratikno, M.Si., PAVet, Dosen Anatomi Fisiologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB menyarankan perlakuan antemortem yang tepat. “Perlakuan antemortem pada hewan kurban pada dasarnya dilakukan 24 jam sebelum penyembelihan. Ini dimaksudkan untuk memgetahui apakah hewan yang akan dikurbankan memenuhi persyaratan hewan kurban atau tidak. Selain itu pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mencegah pemotongan hewan yang sakit dan hewan betina yang produktif,” kata Supratikno.

Lebih jauh ia memaparkan cara pemeriksaan antemortem dengan tetap berpedoman pada prinsip kesejahteraan hewan. “Hewan kurban ditempatkan pada tempat penampungan hewan yang minimal memiliki atap, pagar, tempat makan dan minum. Menjelang penyembelihan dilakukan puasa makan selama 12 jam untuk mengurangi isi perut sedangkan minum tetap diberikan sepuasnya,” urai Asesor Juru Sembeli Halal ini.

Di lapangan Supratikno sering melihat masyarakat memperlakukan hewan kurban yang kurang tepat, yaitu menggunakan pisau yang kurang tajam, melakukan penyembelihan di tempat terbuka, hewan yang masih hidup melihat temannya yang sedang disembelih, hewan dibiarkan menunggu lama di tempat penyembelihan, bahkan ada juru sembelih yang mengasah pisau di dekat hewan kurban.

Menurut Anggota Halal Science Center IPB ini, seharusnya tempat penyembelihan adalah tempat terbatas, hanya orang yang berkepentingan saja yang boleh ada di situ. Hewan yang masih hidup tidak boleh melihat temannya yang sedang disembelih, dan hewan baru boleh dibawa ke tempat penyembelihan setelah semua peralatan dan petugas siap. Penyembelihan dilakukan oleh juru sembelih halal yang kompeten dengan menggunakan pisau yang sangat tajam.

Penyembelihan yang baik, lanjut Supratikno, memberikan manfaat, yaitu daging yang terjamin status kehalalannya, proses penyembelihan tidak menyiksa hewan sehingga darah keluar sempurna, dan daging yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas.

Untuk mendapatkan daging yang halal dan berkualitas, Dr. drh. Hadri Latif, M.Si., menjelaskan, daging kurban harus ditangani di tempat yang bersih dan sehigienis mungkin. Paling tidak daging dijaga tetap bersih, tidak kontak langsung dengan tanah/lantai/kotoran/bahan yang kotor. Daging tidak dicampur dengan jeroan, baik dalam penanganan maupun pengemasannya.

Selain itu, katanya, pekerja harus selalu menjaga kebersihan baik diri mereka maupun lingkungan di sekitar mereka selama menangani daging kurban.

Di lapangan sering terlihat hewan yang telah disembelih tidak segera ditangani (ditumpuk) bahkan sering di tempat yang panas.

“Harusnya setelah hewan dipastikan telah mati, sesegera mungkin ditangani dan penanganannya harus di tempat yang tidak terpapar matahari secara langsung (teduh). Daging sering tidak dikemas dalam wadah yang khusus untuk makanan. Harusnya kemasan yang kontak langsung dengan daging menggunakan plastik untuk makanan, seperti plastik gula/minyak/plastik bening,” saran Dosen dari Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB tersebut. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *