Menko bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan/ist

Menko Luhut : Lawan Hoax Sawit yang Memiskinkan Petani Indonesia

Agrofarm-Kelapa sawit telah menjadi sasaran hoax yang cukup mengemuka di dunia termasuk di Eropa. Jika tidak diluruskan, maka Indonesia akan terkena dampak negatifnya terutama nasib 2,3 juta petani kecil di Indonesia dan 17,5 juta pekerja di sektor sawit.

“Ternyata terhadap data itu istilah halusnya banyak dilakukan distortion of fact, nah itu yang banyak dlakukan negara-negara di Eropa ini,” terang Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan dalam keterangan resminya, Kamis (17/5/2018).

“Sekarang ini kita kembali menyajikan data bahwa rule nomer satu dari WTO itu keadilan, jadi tidak boleh ada diskriminasi,” ujar Menko Maritim tersebut menjelaskan strategi diplomasi sawit-nya yakni dengan menyatukan data dan menyampaikan fakta yang lengkap tentang industri sawit.

Lebih jauh, Menko Luhut menjelaskan bahwa dukungan itu diberikan karena semua pihak sepakat dengan prinsip Sustainable Development Goals yang target nomor satunya adalah pengentasan kemiskinan.

“Masalah kelapa sawit ini masalah yang harus diselesaikan secara terintegrasi, karena itu menyangkut masalah kemiskinan itu adalah kaitannya dengan SDGs itu nomer satu kemiskinan,” paparnya.

Sebagai hasil akhirnya, Menko Luhut berharap publik mendapatkan perbandingan tiga produk utama pertanian yang menghasilkan minyak tersebut. “Jadi Kalau memang harus disaingkan ya tidak apa-apa, palm oil disaingkan sunflower atau dengan soybean,” ungkap Menko Luhut.

“Padahal biji bunga matahari dan kedelai itukan kurang efektif bila dibandingkan palm oil,” lanjut Menko Luhut menerangkan bahwa kelapa sawit dapat menghasilkan minyak sampai 10 kali lebih banyak daripada 2 komoditi lainnya.

Masalahnya, perbandingan yang adil tidak pernah muncul karena kampanye negatif yang memberikan stereotipe bahwa minyak sawit berdampak pada kerusakan hutan, membahayakan kesehatan manusia, dan mengganggu habitat hewan yang dilindungi.

Justru fakta kontribusi industri sawit yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan di negara-negara berkembang, terabaikan. Jika kampanye yang tidak berkeadilan ini tidak diatasi, maka kendala terdekat bagi Indonesia akan terjadi pada 2021, di mana Parlemen Uni Eropa melarang impor sawit untuk penggunaan biofuels dan bioliquids termasuk biodiesel.

“Buat indonesia ada hasil penelitian dari Stanford itu menunjukkan memang yang paling banyak mengurangi kesenjangan kita dari 0,41 ke 0,39 itu adalah palm oil salah satunya yang paling besar. Kalau itu terganggu ini akan merusak nanti beberapa juta orang terkait masalah kemiskinan,” pungkas Menko Luhut. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *