Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita/ist

Hingga Maret, Sapi Bunting Capai 2,3 Juta Ekor

Agrofarm-Dalam upaya mewujudkan peningkatan populasi sapi, Kementerian Pertanian (Kementan) membuat program Upaya Khusus Sapi Wajib Bunting (Upsus SIWAB). Tercatat hingga Maret 2018 realisasi jumlah bunting sebanyak 2.322.367 ekor ekor sapi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita mengatakan, kegiatan inseminasi buatan (IB) sebesar 5.222.542 ekor, dengan kelahiran sebanyak 1.130.369 ekor atau setara Rp. 7,9 triliun dengan asumsi harga 1 pedet lepas sapih Rp 7 juta/ekor.

“Nilai yang sangat fantastis mengingat investasi program UPSUS Siwab pada tahun 2017 sebesar Rp 1,1 triliun,” ujar Ketut pada acara Workshop Sinergitas Peningkatan Populasi Sapi di Indonesia, Jumat (13/4/2018).

Diarmita menerangkan, capaian kinerja UPSUS SIWAB bukanlah angka-angka di atas kertas, tapi merupakan capaian kinerja rill di lapangan yang dilaporkan melalui sistem pelaporan Informasi Kesehatan Hewan Nasional Terintegrasi (ISIKHNAS) yang jelas ketelusuran dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.

“Pengembangan sistem pelaporan ini merupakan kebanggaan tersendiri, karena dengan sistem ini maka kinerja pengembangan populasi sapi dan kerbau di seluruh wilayah Indonesia dapat terdeteksi kinerjanya secara cepat, tepat dan akurat,” katanya.

Dia mengapresiasi, kepada para peternak Indonesia dan stakeholder yang telah bersedia meminjamkan sapinya untuk dilakukan kawin suntik (Inseminasi Buatan). Kegiatan SIWAB yang sudah berjalan dari tahun 2017 dan 2018 dengan tujuan untuk percepatan peningkatan populasi.

“Dengan UPSUS SIWAB saya meyakini Indonesia ini pada tahun 2026 akan mampu untuk melakukan ekspor ternak sapi ke berbagai negara lain yang membutuhkan ternak sapi, karena pada tahun tersebut diharapkan Indonesia sudah dapat menyatakan swasembada daging sapi,” jelasnya.

Pemerintah juga akan melakukan penambahan indukan impor untuk meningkatkan populasi di dalam negeri. “Unutk pengadaan indukan impor tahun ini telah dialokasikan sebesar 15.000 ekor yang akan didistribusikan pada daerah-daerah yang mempunyai komitken kuat dalam hal keberlanjutan pengembangan ternak,” ungkap Diarmita.

Selain itu juga dilakukan pengembangan sapi Ras Baru, yakni Belgian Blue di Indonesia yang menjadi alternatif penambahan sumber bibit sapi potong di masa mendatang. “Kita harapkan pada tahun 2019 akan ada kelahiran 1000 ekor Belgian Blue,” ujar Ketut.

Pemerintah optimis, dengan kegiatan tersebut di atas Indonesia pada tahun 2026 akan mampu melakukan ekspor ternak sapi ke berbagai negara lain karena pada tahun tersebut diharapkan Indonesia sudah dapat menyatakan swasembada daging sapi.

“Kita juga sedang berupaya membangun branding produk peternakan lokal menjadi produk premium, dan melakukan perluasan pasar ke arah ekspor, sehingga kita berupaya untuk meningkatkan daya saing produk peternakan dalam negeri di pasar global,” tuturnya.

Slain itu, katanya, Indonesia juga sudah ekspor daging Wagyu ke Myanmar dan produk unggas ke beberapa negara seperti Jepang, Papua Nugini, Myanmar dan pada pertengahan April ini akan launcing ekspor ke Timor Leste.

Dia berharap, semua pihak dapat memiliki presepsi dan pandangan yang sama terkait kebijakan pemerintah, dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional. Bantolo