Simposium Nasional Hiu dan Pari di Indonesia ke 2, Biologi, Populasi, Ekologi, Sosial-Ekonomi, Pengelolaan dan Konservasi’, yang akan terlaksana pada tanggal 28 - 29 Maret 2018, di Gedung GMB IV – KKP Jakarta/ist

Simposium Nasional:Menuju Pengelolaan Hiu dan Pari Secara Berkelanjutan Berbasis Ilmiah

Agrofarm.co.id- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Conservation International, Misool Foundation, dan World Wildlife Fund (WWF) akan menyelenggarakan Simposium Nasional Hiu dan Pari di Indonesia ke 2, Biologi, Populasi, Ekologi, Sosial-Ekonomi, Pengelolaan dan Konservasi, yang akan terlaksana pada tanggal 28 – 29 Maret 2018, di Gedung GMB IV KKP Jakarta.

Dalam rilis yang diterima Agrofarm, Senin (26/3/2018),Kepala Badan Riset dan Sumber daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), M. Zulficar Mochtar pada Jumat, 22 Maret 2018, menyampaikan bahwa simposium hiu dan pari ini berangkat dari pilar KKP yakni sustainability, di mana BRSDM mendorong sektor perikanan dan kelautan agar terlaksana secara berkelanjutan, sehingga dapat diketahui lebih mendalam apa tantangan, isu, dan perkembangan yang dihadapi saat ini.

Kami melihat hiu dan pari menjadi salah satu komunitas spesies yang perlu mendapat atensi khusus. Meskipun kita sudah memiliki beragam regulasi mengenai hal ini, namun tetap harus dipantau. Karenanya kita melaksanakan simposium terkait hiu dan pari ini dengan berbagai pihak peneliti dan pihak lainnya untuk membahas aspek terkait hiu dan pari. Seperti aspek ekologi, manfaat, populasi, dan aspek lainnya. Hasilnya nanti diharap menjadi satu dokumen atau rekomendasi untuk melihat seefektif apa kebijakan KKP, papar Zulficar.

Disampaikan juga bahwa simposium ini sebagai wadah untuk mengedukasi para stakeholder perikanan dalam hal ini nelayan, bahwa hiu bukan merupakan spesifik target penangkapan. Pasalnya, dibanding dengan menjual dagingnya, hiu dan pari lebih memiliki nilai ekonomis tinggi jika dijadikan sebagai tujuan wisata dan konservasi.

Kita paham sebenarnya hiu bukan ikan target, bukan spesifik target untuk ditangkap. Namun karena adanya permintaan, nelayan melihat ini sebagai prosperity. Padahal hiu sangat bermanfaat untuk menjamin satu ekosistem yang sangat strategis. Dibanding daging nya, hiu dan pari lebih memiliki nilai tinggi untuk tujuan wisata dan konservasi , hal ini yang perlu didorong agar nelayan sadar untuk tidak menjadikan hiu sebagai target penangkapan, jelas Zulficar.

Berdasarkan karakteristik biologinya, ikan hiu dan pari pun mempunyai fekunditas relatif rendah, usia matang seksual lama dan pertumbuhannya yang lambat. Dengan mempertimbangkan kepentingan pemanfaatan oleh masyarakat maka pendekatan pengelolaan yang lestari merupakan pilihan yang direkomendasikan, dengan melakukan upaya konservasi dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya sehingga dapat memberikan manfaat secara berkesinambungan.

Simposium ini juga bertujuan untuk mengumpulkan hasil-hasil penelitian terbaru terkait sumber daya hiu dan pari di Indonesia dan memberikan rekomendasi dan kebijakan pengelolaan terhadap jenis-jenis ikan hiu yang perlu untuk dilindungi, terutama hiu yang masuk dalam Appendix Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), Regional Fisheries Management Organisations (RFMOs) dan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). dian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *