Joko Supriyono Ketua Umum GAPKI/bimo

Sawit Mampu Penuhi Kebutuhan Minyak Nabati Dunia

Agrofarm.co.id-Kelapa sawit dapat memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia yang terus meningkat, seiring bertambahnya populasi penduduk dunia.

Sebuah tudi LMC International, populasi penduduk dunia akan meningkat menjadi 8 miliar orang pada 2020 mendatang. Ini berarti dibutuhkan sekitar 50 juta ton minyak nabati di dunia.

“Pertanyaannya, bagaimana kita memenuhi kebutuhan ini? Artinya, butuh penambahan lahan untuk hasilkan minyak tersebut,” ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono.

Sayangnya, katanya, penambahan lahan atau ekstensifikasi tak bisa menjadi satu-satunya solusi karena persediaannya yang terbatas. Belum lagi, lahan yang tersedia tak bisa digunakan untuk menghasilkan beraneka ragam minyak nabati.

Untuk itu, lahan yang ada perlu diprioritaskan untuk menanam komoditas unggulan yang paling efisien dengan produktivitas tinggi guna menutup kebutuhan minyak nabati dunia, yaitu kelapa sawit.

Menurutnya, jika lahan digunakan untuk menghasilkan minyak bunga matahari (sunflower oil), maka dibutuhkan tambahan lahan sekitar 70,4 juta hektare (ha). Sedangkan bila lahan digunakan untuk menghasilkan minyak kedelai (soybean oil), maka dibutuhkan tambahan lahan yang lebih luas mencapai 96 juta ha.

“Tetapi kalau menanam kelapa sawit, hanya membutuhkan sekitar 12,6 juta ha lahan untuk perkebunan baru,” kata Joko.

Bahkan, ia mengklaim kebutuhan lahan bisa lebih kecil bila ada peningkatan produktivitas lahan sawit, misalnya dengan melakukan peremajaan perkebunan (replanting). “Kalau produktivitas sawit bisa meningkat rata-rata 8 juta ton CPO per hektar per tahun, maka hanya perlu penambahan lahan sekitar 6 juta hektar saja,” terangnya.

Oleh karenanya, Joko berharap agar dunia usaha bisa lebih realistis untuk memilih komoditas kelapa sawit yang menghasilkan CPO untuk menutup kebutuhan minyak nabati dunia.

Dia berharap agar semua pemangku kepentingan di industri kelapa sawit bisa bersama-sama menggencarkan peningkatan produktivitas perkebunan dengan melakukan replanting dan kemitraan dengan petani kecil.

“Pemerintah dan pengusaha harus sangat serius untuk meningkatkan kerja sama dengan petani kecil dan meningkatkan produktivitas,” tuturnya.

Dalam upaya meningkatkan produktivitas sawit rakyat, GAPKI telah menjalin kerja sama kemitraan dengan skema independen. Salah satunya menandatangani MoU kerjasama dengan Apkasindo. MoU ini bertujuan untuk mendorong peningkatan kemitraan terutama dengan perkebunan rakyat, jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan kemitraan semacam itu dapat meningkatkan hasil kelapa sawit, dan penerimaan produk kelapa sawit juga tumbuh. Sebagai produsen, peningkatan penerimaan harus diartikan sebagai peningkatan daya saing dalam arti biaya produksi, kualitas dan keberlanjutan. Inti dari persaingan di masa depan adalah produktivitas dan daya saing.

ISPO mewakili kepentingan sawit nasional, dan petani kecil harus menjadi bagian darinya. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang lebih besar dari pemerintah dan pemangku kepentingan. Kemitraan antara perusahaan dan petani kecil menjadi suatu keharusan, jelas Joko.

Joko menambahkan, dalam kerangka kebijakan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang didirikan oleh PBB menekankan pencapaian SDGs yang mencakup 17 sasaran pada tahun 2030. SDGs telah diadopsi sebagai strategi dan kepentingan negara, khususnya negara-negara berkembang dalam mengarahkan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat.

“Pengembangan industri kelapa sawit nasional diyakini sejalan dengan SDGs, setidaknya ada 7 aspek yang dapat dicapai yaitu tidak ada kemiskinan, kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan yang baik, kualitas pendidikan, air bersih dan sanitasi, pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi serta konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab,” bebernya.

Meskipun diakuinya, ada kecenderungan negara-negara pengimpor untuk lebih melindungi dan membatasi perdagangan kelapa sawit melalui berbagai instrumen seperti Resolusi Parlemen Uni Eropa, biodiesel antidumping. Ditambah keputusan pemerintah Rusia untuk menerapkan standar yang lebih tinggi mengenai nilai peroksida, dan kenaikan tarif pada minyak kelapa sawit di India.

“Hal ini membuat persaingan di pasar global semakin ketat, dan tidak pasti, harga berubah-ubah dan yang lebih penting, hal itu dapat menghambat pengembangan kelapa sawit,” tandas Joko.

Joko menuturkan, saat ini minyak sawit dan turunannya merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan ekspor Indonesia. “Sawit sudah menjadi mesin pembangunan ekonomi yang mendorong pertumbuhan sektor lain dan lapangan kerja yang disediakan di pedesaan,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, semua peran industri kelpa sawit terhadap perekonomian Indonesia menjadi semakin penting.

Guna meningkatkan daya saing minyak kelapa sawit di Indonesia, Joko memberikan beberapa usulan. . Pertama, dalam menjaga dan memperluas pasar dan ekspor pemerintah perlu melakukan kerjasama dengan negara tujuan ekspor.

Kedua, guna meningkatkan daya saing, pemerintah musti terus memperbaiki iklim investasi dan menjaga kepastian bisnis, khususnya atas berbagai peraturan yang berpotensi menghambat investasi. Indonesia Sustainable on Palm Oil (ISPO) harus diperkuat terutama berkenaan dengan pengaturan kelembagaan pemerintahan dan sumber daya. “Sehingga ISPO menjadi lebih kredibel dan diakui secara internasional,” ujar Joko.

Adapun pada akhir 2016 dan awal 2017, harga CPO global meningkat saat produksi turun secara signifikan karena elnino. Produksi minyak sawit kembali pulih sejak april 2017. Produksi minyak sawit 2017 di Indonesia diperkirakan mencapai 36,5 juta ton atau meningkat 4 juta ton dibandinkan dengan tahun 2016.

Ekspor CPO dan produk turunannya diperkirakan sekitar 30 juta ton atau meningkat sekitar 20% dibadningkan tahun lalu. Dengan jumlah produksi dan ekspor tersebut Indonesia telah mengukuhkan dirinya sebagai penghasil dan pengekspor kelapa sawit terbesar dunia. Meskipun harga berfluktuatif, harga CPO global pada januari-september 2017 diperdagangkan sekitar USD 717 per ton. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *