Buah mangga/ist

Indonesia Bidik Pasar Buah Tropis di Selandia Baru

Agrofarm.co.id-Indonesia terus berupaya membuka akses pasar Selandia Baru sebagai tujuan ekspor, termasuk untuk buah tropis. Upaya tersebut kembali dilakukan dalam forum Senior Official’s Meeting on Trade and Investment Framework (SOMTIF) ke-6 antara Pemerintah Indonesia dan Selandia Baru di Jakarta.

Jika kerja sama terwujud, buah tropis asal Indonesia seperti salak, mangga, nanas, dan pisang akan dapat mengikuti jejak manggis yang sudah masuk sejak 2014 lalu.

Pada pertemuan SOMTIF ke-6 ini, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menjadi Ketua Delegasi Indonesia. Sedangkan, Delegasi Selandia Baru dipimpin oleh Principal Adviser, Trade & Economic Group, Ministry of Foreign Affairs and Trade Mark Trainor.

“Bagi Indonesia, pembukaan akses pasar khususnya untuk buah tropis memiliki peluang yang baik. Harapan kami, buah-buahan tropis dari Indonesia seperti salak, mangga, nanas, dan pisang dapat segera diekspor ke Selandia Baru,” ungkap Iman dalam siaran persnya, Kamis (08/3/2018).

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam forum SOMTIF ke-6 adalah pembukaan akses pasar terkait perdagangan barang di bidang pertanian. Kedua negara berkeinginan menjalin kerja sama lebih lanjut terkait komoditas ekspor unggulan masing-masing. Jika Indonesia ingin membuka akses pasar buah tropis di Selandia Baru, sebaliknya Selandia Baru ingin meningkatkan ekspor bawang bombai, susu, dan daging ke Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula berbagai isu hambatan perdagangan terkait produk pertanian kedua negara. Kedua delegasi sepakat bahwa isu pertanian akan dibahas lebih mendetail di forum bilateral bidang pertanian pada ASEAN-Australia New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) yang diagendakan berlangsung di pertengahan Maret 2018 di Selandia Baru.

Indonesia dan Selandia Baru kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi melalui forum tahunan SOMTIF. Forum ini mendiskusikan isu-isu perdagangan dan investasi, sekaligus mencari terobosan untuk meningkatkannya.

Adapun Forum SOMTIF juga mewadahi kerja sama bilateral di bidang-bidang seperti pertanian, energi, pendidikan, pariwisata, serta peningkatan promosi di bidang perdagangan dan investasi.

“Pertemuan SOMTIF ke-6 ini merupakan upaya konkret untuk meningkatkan perdagangan kedua negara yang ditargetkan mencapai Rp400 trilliun atau NZD 4 miliar dalam periode sepuluh tahun (2014-2024),” jelas Iman.

Pada tahun 2017, Selandia Baru merupakan negara tujuan ekspor nonmigas terbesar ke-34 dan negara asal impor ke-26 bagi Indonesia. Total perdagangan tahun 2017 sebesar USD 1,2 miliar dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 437,8 juta. Sedangkan, impor Indonesia dari Selandia

Baru sebesar USD 751,2 juta. Defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap Selandia Baru sebesar USD 313,4 juta. Tren total perdagangan kedua negara rata-rata menurun 3,82% selama periode 2013-2017. Oleh sebab itu kedua negara berupaya agar tren tersebut dapat dikoreksi melalui berbagai upaya promosi dagang dan penyelesaian isu dagang.

Promosi Melalui Misi Dagang

Forum SOMTIF ke-6 juga menekankan pentingnya promosi dagang di antara kedua negara. Terkait hal tersebut, Kemendag merencanakan Misi Dagang dan Forum Bisnis di Selandia Baru pada 1619 Maret 2018 yang akan melibatkan para pelaku usaha Indonesia.

“Presiden RI selalu menekankan bahwa salah satu sumber pertumbuhan ekonomi adalah kinerja ekspor. Walaupun penduduk Selandia Baru tidak besar, namun jika dikaji lebih dalam, Indonesia belum memanfaatkan potensi pasar dan sumber investasi Selandia Baru secara maksimal. Untuk itu, misi dagang kali ini akan menjembatani penetrasi ekspor atau investasi yang lebih luas ke Selandia Baru,” ungkap Direktur Perundingan Bilateral Kemendag Made Marthini.

Komoditas ekspor nonmigas utama Indonesia ke Selandia Baru pada 2017 adalah oilcake and other solid residues (USD 126,5 juta); batu bara dan briket (USD 27,4 juta); wood, including strips and friezes for parquet flooring, not assembled (USD 24,8 juta); new pneumatic tyres of rubber (USD 18,1 juta); serta tisu toilet/wajah, handuk, dan celemek (USD 14,5 juta).

Sementara itu, komoditas impor nonmigas utama Indonesia dari Selandia Baru adalah susu dan krim (USD 160,3 juta); butter, incuding dehydrated butter and ghee, derived from milk (USD 97,5 juta); cheese and curd (USD 71,3 juta); recovered (waste and scrap) (USD 39,6 juta); serta chemical wood pulp (USD 38,3 juta). Dian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *