Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono/ist

GAPKI Dukung Peningkatan Produktivitas Sawit Rakyat

Agrofarm-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) beserta anggotanya berkomitmen mendukung dan berkontribusi untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) X di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

“Perusahaan sawit sangat mendukung dan mematuhi kebijakan pemerintah agar perusahaan besar mengurangi atau menghentikan ekspansi dan fokus pada intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas,” jelas Joko.

Untuk itu, katanya, akan merevitalisasi kemitraan dengan kebun-kebun rakyat skema plasma yang telah dibangun dan saat ini sudah menjadi kebun sawit swadaya.

“Salah satunya dengan percepatan replanting bagi kebun plasma yang sudah tua atau tidak produktif,” kata Joko.

Dia menambahkan, akan memperluas program kemitraan dengan petani sawit mandiri. Kelompok petani ini produktivitasnya  lebih rendah ketimbang petani plasma lantaran menggunakan bibit yang tidak bersertifikat, kurang perawatan, pemupukan maupun infrastruktur jalan yang kurang memadai.

Disamping itu, kebun sawit swadaya ini umumnya tidak memiliki kelembagaan dalam bentuk koperasi. “Beberapa perusahaan anggota GAPKI sudah memulai membangun kemitraan sawit rakyat swadaya meskipun jumlahnya masih relative kecil,” ujar Joko.

Dia menyebutkan, hingga tahun 2017 luas kemitraan GAPKI dengan petani swadaya mencapai 370 ribu hektare (ha). Diharapkan sampai dua tahun mendatang akan bertambah menjadi 450 ribu ha.

“Dengan skema kemitraan ini diharapkan terjadi peningkatan produktivitas sawit secara gradual. Untuk kemitraan kultur teknis, pemupukan, dan kultur teknis diharapkan mampu meningkatkan produktivitas antara 1-2 ton TBS per hektare per tahun,” jelasnya.

Sementara itu, lanjutnya, kemitraan replanting akan memberikan hasil dalam 3-4 tahun mendatang sehingga produktivitas bisa naik signifikan sebesar 15 ton TBS per hektare per tahun pada masa panen 1-3 tahun mendatang. Bahkan bisa mencapai 20-25 ton TBS per hektare per tahun saat panen di atas usia 5 tahun.

Untuk itu, katanya, perlu dukungan pemerintah dalam penyelesaian masalah tumpang tindih kawasan hutan dengan kebun sawit, karena hal ini akan menghambat kelancaran program kemitraan.

“Jika masalah tumpang tindih lahan segera tuntas, kami akan semakin mudah dalam memperluas kemitraan dengan petani swadaya,” tegas Joko.

Adapun saat ini produktivitas kebun sawit rakyat rata-rata sekitar 10-12 ton TBS/ha/tahun atau setara denga 2,5 ton minyak sawit mentah (CPO)/ha/tahun. Bantolo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *