Pendapatan United Tractors Meningkat 42%

Agrofarm.co.id-PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp64,6 triliun pada tahun 2017 atau meningkat sebesar 42% dibandingkan Rp45,5 triliun pada tahun 2016. Peningkatan pendapatan bersih ini disebabkan oleh kinerja yang lebih baik dari seluruh lini bisnis milik Perseroan.

Dikutip dari siaran persnya, Rabu (28/2/2018), masing-masing unit usaha, yaitu: Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan, Pertambangan, dan Industri Konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 38%, 46%, 11% dan 5% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian,

Sejalan dengan peningkatan kinerja operasional disertai dengan marjin pendapatan yang lebih baik, Perseroan membukukan laba bersih sepanjang tahun 2017 mencapai Rp7,4 triliun atau meningkat sebesar 48% jika dibandingkan dengan laba bersih pada tahun 2016 sebesar Rp5,0 triliun.

Mesin Konstruksi

Segmen usaha Mesin Konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 74% menjadi 3.788 unit, dibandingkan dengan 2.181 unit pada tahun 2016. Peningkatan penjualan alat berat tersebut terutama didorong oleh peningkatan penjualan di sektor pertambangan dan perkebunan. Komatsu mampu mempertahankan posisi sebagai market leader alat berat, dengan pangsa pasar domestik sebesar 35% (berdasarkan riset pasar internal). Penjualan produk merek lainnya yaitu UD Trucks mengalami peningkatan dari 361 unit menjadi 700 unit, sementara penjualan Scania truk dan bus meningkat dari 532 unit menjadi 1.116 unit.

Sejalan dengan peningkatan penjualan alat berat, penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat meningkat sebesar 22% menjadi Rp7,1 triliun. Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha Mesin Konstruksi mencatat peningkatan sebesar 69% menjadi Rp24,7 triliun.

Kontraktor Penambangan

Bidang usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Pada tahun 2017, PAMA membukukan peningkatan pendapatan bersih sebesar 23% menjadi sebesar Rp29,6 triliun. PAMA mencatat peningkatan volume produksi batu bara dari 109,2 juta ton menjadi 112,6 juta ton, sementara itu volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) meningkat dari 701,5 juta bcm menjadi 800,8 juta bcm.

Pertambangan

Bidang usaha Pertambangan dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung. Total penjualan batu bara pada tahun 2017 mencapai 6,3 juta ton atau turun sebesar 8% dari 6,9 juta ton pada tahun 2016. Penurunan penjualan batu bara ini dikarenakan berkurangnya volume penjualan dari porsi coal trading. Namun, peningkatan rata-rata harga jual batu bara yang signifikan membuat pendapatan unit usaha Pertambangan mencatat peningkatan pendapatan bersih sebesar 40% menjadi Rp7,2 triliun.

Industri Konstruksi

Bidang usaha Industri Kontruksi dijalankan melalui PT Acset Indonusa Tbk (ACSET). Sepanjang tahun 2017, ACSET membukukan pendapatan bersih sebesar Rp3,0 triliun dari sebelumnya sebesar Rp1,8 triliun pada tahun 2016. Sejalan dengan peningkatan pendapatan bersih, laba bersih ACSET mengalami peningkatan sebesar 126% menjadi Rp154 miliar.

Nilai kontrak baru pada tahun 2017 mencapai Rp8,4 triliun dibandingkan dengan Rp3,8 triliun pada tahun 2016. Peningkatan kontrak baru sebagian besar diperoleh dari beberapa kontrak strategis di sektor infrastruktur, diantaranya adalah kontrak Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II, Jalan Tol Bakauheni-Sidomulyo, Jalan Tol JORR II Ruas Kunciran-Serpong, dan Light Rail Transit (LRT) Cawang Dukuh Atas.

Pada bulan Maret 2017, Bhumi Jati Power (BJP) yang 25% sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan Perseroan telah menyelesaikan perjanjian pendanaan proyek dengan para kreditur (financial closing). BJP akan mengembangkan serta mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2×1.000 MW di Jepara, Jawa Tengah.

Hingga akhir tahun 2017, progress pembangunan proyek ini telah mencapai 12% dan dijadwalkan akan memulai operasi secara komersial pada tahun 2021. BJP merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha Perseroan, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc.

Pada bulan Maret 2017, Perseroan melalui anak usahanya PT Tuah Turangga Agung, telah menyelesaikan akuisisi 80,1% kepemilikan PT Suprabari Mapanindo Mineral (SMM), sebuah perusahaan batu bara kokas (coking coal) yang berlokasi di Kalimantan Tengah. SMM telah memulai produksi secara komersial pada akhir tahun 2017. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *