Produksi Kakao Rendah, Impor Terus Meningkat

Agrofarm.co.id-Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Roem Kono menyayangkan masih tingginya angka impor komoditi kakao akibat penurunan produksi dari perkebunan petani dalam negeri.

“Jika melihat luas lahan perkebunan kakao yang kita miliki mencapai jutaan hektar, seharusnya impor komoditi kakao tidak perlu terjadi. Kita bahkan seharusnya yakin bisa wujudkan swasembada kakao,” ungkap Roem dikutip, Kamis (22/2/2018).

Politisi Golkar ini menengarai masalah serangan hama penggerek buah kakao (PBK) menjadi salah satu faktor penyebab turunnya produktivitas perkebunan kakao para petani, dan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah serta berbagai pihak terkait untuk segera menanggulanginya.

“Bupati, Kadis Perkebunan, Perwakilan dari Pupuk Kaltim dan juga BUMN Sang Hyang Seri yang menyediakan bibit unggul harus sinergi untuk memenuhi kebutuhan para petani sehingga tercapai peningkatan produksi kakao melalui program intensifikasi,” ungkap Roem Kono.

Bupati Sigi Mohammad Irwan menjelaskan bahwa Intensifikasi Kakao oleh Gapoktan Harapan Jaya di Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten yang menjadi target lokasi Program Intensifikasi Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah, karena terletak di dekat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kota Palu yang menjadi lokasi industri pengolahan kakao.

Sementara Dirjen Perkebunan Kementan Bambang, memaparkan bahwa dalam program intensifikasi, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tengah memilih para petani kakao yang memiliki lahan kakao dengan umur tanaman yang masih relatif muda dan produktif.

“Para petani diberikan sejumlah bantuan seperti pupuk dan obat-obatan herbisida serta pendampingan dalam melaksanakan intensifikasi tersebut,” jelas Bambang. Bantolo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *