Beras Bulog/ist

Tiga Hantu Dibalik Persoalan Beras

Agrofarm.co.id-Ichsan Firdaus Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengungkapkan, selama ini pada saat terjadi gejolak harga beras. Ada tiga hantu yang muncul dari persoalan impor beras yang sampai saat ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Pertama, hantu surplus beras. Pada Tahun 2015 pemerintah membuka keran impor beras, namun ada yang mengklaim terjadi over produksi.

“Jadi selalu ada hantu surplus yang muncul setiap ada kebijakan impor beras,” ujar Ichsan pada acara Talkshow bertema Mudah Mainkan Data Pangan di Hotel Ibis Cawang Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Kedua, hantu spekulan dan mafia beras. KPPU selalu mengatakan bahwa setiap terjadi kenaikan beras karena ulah spekulan dan mafia beras.

“Sepanjang tiga tahu ini ketika ditanya orangnya, lokasinya dan cara melakukan spekulan, itu tidak berhasil ditemukan. Hantu ini yang sering dimunculkan oleh mereka,” bebernya.

Untuk meningkatkan produksi beras, lanjutnya, DPR sudah menyetujui anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) sekitar Rp 20-30 triliun per tahun. Angka itu di luar anggaran subsidi pupuk dan benih. Akan tetapi, hasilnya produksi malah turun.

“Ada pejabat Kementan heroik mengatakan tidak ada impor beras selama dua tahun ini. Padahal pada September-Desember 2015 Bulog melakukan kotrak impor beras yang terealisasi Januari sampai Maret 2016. Anehnya Mentan menyebut tahun 2016 tidak ada impor, sementara masuk beras impor sebanyak 1,3 juta ton,” jelasnya.

Kemudian Januari hingga Desember 2017 juga tidak ada impor. Namun kenyataan di lapangan harga beras melambung tinggi. “Artinya ada yang salah pada sektor produksi. Kami sudah mengingatkan agar Kementan memperbaiki data beras sejak tahun 2015,” katanya.

Kementan menjawab bahwa data pangan itu yang berhak merilis yakni Badan Pusat Statistik (BPS). Sementara BPS itu kewenngan ada di Kementan.

“Ada saling lempar tanggung jawab antar instansi pemerintah. Ini berarti pemerintah kurang kordinasi terkait kesimpangsiuran data pangan,” ujar Ichsan.

Dia menyatakan, ada upaya melakukan akrobatik untuk menutupi informasi ke publik. Padahal tidak perlu melakukan kebohongan publik terkait data demi stabilisasi harga pangan.

Ketiga, Rent Seeker atau praktik perburuan rente bahwa ada fee impor sekitar USD 20-30 per ton. “Kalau ada tolong ditujuk pelakunya. Namun sampai saat ini belum ada upaya untuk membongkar praktik ini,” tukasnya.

Menurutnya, tiga hantu ini menjadi isu umum ketika muncul kebijakan impor beras. Ini harus segera diselesaikan oleh pemerintah.

Dia mengatakan, produksi pangan menjadi tantangan tahun ini. Selain itu, ketersediaan stok di pasaran ketika Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) masuk pasar. Tahun lalu saja sudah terjadi gejolak harga beras.

“Jangan sampai tahun ini melakukan akrobatik lagi yang memunculkan hantu-hantu dan itu tidak menyelesaikan masalah,” pungkasnya. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *