Srikandi, Anak Sapi Belgian Blue/ist

Srikandi, Sapi Belgian Blue Betina Pertama di Indonesia

Agrofarm.co.id-Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor kembali melahirkan Sapi Belgian Blue pada Sabtu (9/12/2017) dengan Berat Badan 51 kg berjenis kelamin betina.

Sapi hasil teknologi Transfer Embrio (TE) tersebut diberi nama Srikandi oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat penandatanganan kerjasama antara Pemda dengan Perbankan di Kantor Kementerian Pertanian tanggal 14 Desember 2017. Pada acara tersebut, Menteri Amran menceritakan kebahagiaannya tentang kelahiran sapi Belgian Blue tersebut.

Menurutnya, kelahiran sapi Gatot Kaca dan Srikandi di Indonesia ini merupakan yang pertama di negara tropis. “Sapi Belgian Blue ini merupakan sapi yang berotot pertama di dunia dari hasil persilangan yang dikembangkan oleh peternak di Belgia,” kata Amran dalam siaran persnya, Senin (18/12/2017)

Ia menegaskan Belgian Blue menjadi sapi masa depan Indonesia, sehingga perlu didukung. Amran menuturkan, keberadaan Belgian Blue yang digunakan untuk disilangkan dengan sapi lokal yang nantinya akan meningkatkan perototan sapi lokal.

“Keuntungan yang diperoleh dari terjadinya mutasi ini adalah perototan yang luar biasa, sehingga jumlah karkas juga meningkat, dan kandungan lemak pada daging juga rendah,” jelasnya.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menjelaskan, kelahiran Belgian Blue Indonesia (BBI) yang merupakan sapi Belgian Blue murni yang berasal dari Belgian merupakan salah satu bukti pada dunia bahwa teknologi TE telah dikuasai oleh Indonesia.

“Hal ini merupakan bukti juga bahwa dengan teknologi TE, kita dapat memiliki sapi eksotik unggul dengan harga lebih murah dibandingkan jika melakukan impor sapi hidup,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, pengembangan sapi Belgian Blue masih bersifat terbatas di UPT Lingkup Kementerian Pertanian. “Sapi keturunan Belgian Blue baik hasil TE maupun hasil persilangannya dengan bangsa lainnya, untuk saat ini akan dipelihara dan dibesarkan di BET Cipelang yang merupakan salah satu UPT lingkup Ditjen PKH yang bisa dibilang identik dengan sapi Belgian Blue (BB),” katanya.

Dia menambahkan, sapi keturunan BB jantan selanjutnya akan didistribusikan ke B/BIB nasional untuk dijadikan sebagai penghasil semen setelah mendapatkan rekomendasi dari komisi bibit. “Sedangkan, sapi keturunan BB betina akan dijadikan sebagai donor untuk produksi embrio,” ujarnya.

Kepala BET Cipelang Oloan Parlindungan Lubis menyampaikan, pengembangan sapi Belgian Blue di BET Cipelang dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu melalui pemanfaatan teknologi Inseminasi Buatan (IB) dan melalui teknologi Trasnfer Embrio (TE).

“Inseminasi Buatan (IB) dengan semen beku BB dilakukan pada sapi-sapi FH, Limousin, Simmental dan PO, sedangkan untuk aplikasi TE dilakukan pada sapi resipien FH, Simmental dan Limousin,” ungkapnya.

Oloan mengatakan, Srikandi merupakan keturunan dari pejantan Adajio De Bray dan induk Farah De Cras Avernas, resipien yang menjadi induk titipan adalah sapi Limousin. Adajio De Bray, pejantan dari Gatot Kaca dan adiknya merupakan sapi Belgian Blue yang berasal dari pure breeding, yaitu sapi Belgian Blue murni.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebelumnya telah lahir sapi Belgian Blue perdana hasil TE pada awal tahun 2017, tepatnya pada hari Senin 30 Januari 2017. Sapi Belgian Blue hasil TE ini merupakan sapi BB hasil TE pertama di Asia Tenggara.

Sapi hasil TE pertama berjenis kelamin Jantan, lahir dengan berat 62.5 kg dan diberi nama Gatot Kaca. Gatot Kaca merupakan keturunan dari pejantan bernama Adajio De Bray dan Induk Fripoulle De Cras Avernas.

Menurutnya, hingga awal Desember 2017, terdapat 14 ekor sapi keturunan BB dengan rincian, 2 ekor merupakan hasil TE dan 12 ekor hasil persilangan semen beku BB dengan bangsa sapi yang lain.

“Sapi keturunan BB yang murni (hasil TE) dua-duanya lahir dengan operasi caesar, sedangkan sapi hasil persilangan dengan bangsa lain dapat lahir secara normal,” kata Oloan.

Namun dia menjelaskan, dengan diet pakan yang ketat pada trimester kebuntingan dapat dilakukan untuk menjaga berat lahir, sehingga sapi-sapi hasil TE kelak mampu lahir secara normal tanpa operasi.

Sugiono Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak menyampaikan, keberadaan sapi keturunan BB di Indonesia diharapkan mampu menjadi harapan baru bagi upaya pemerintah dalam penyediaan protein hewani khususnya daging sapi. “Berbagai pengkajian akan dilakukan sebelum sapi BB ini dilepas ke masyarakat peternak,” ucapnya.

Dia berharap, melalui upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka peningkatan produktivitas ternak ini diharapkan dapat terwujud cita-cita Indonesia untuk mewujudkan swasembada daging sapi. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *