Beranda Perkebunan 2017, Produksi Kopi Diperkirakan Turun

2017, Produksi Kopi Diperkirakan Turun

688
BERBAGI

Agrofarm.co.id – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan, produksi kopi nasional pada tahun 2017 ini sebesar 637.000 ton atau turun 0,27% dari tahun lalu 639.305 ton.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian pertanian Bambang mengatakan, penurunan produksi ini akibat cuaca kemarau basah yang terjadi pada tahun 2016, sehingga menyebabkan produktivitas kopi tidak maksimal. “Tahun ini, kondisi cuaca diperkirakan tidak jauh beda dengan tahun lalu,” ujar Bambang.

Bambang menyebut, dalam lima tahun terakhir produksi kopi nasional mengalami pertumbuhan yakni sekitar 1,29 ton per tahun selama 2010-2015, sedangkan produktivitas 1,24 kilogram (kg) per hektar (ha) dan luas areal 0,33 ha per tahun.

Luas perkebunan kopi saat ini sekitar 1,2 juta hektar, produksi sebesar 639.305 ton dengan produktivitas 707 kilogram/ha. Paling banyak dikembangkan di Indonesia jenis kopi robusta sekitar 76,2% dan arabika 23,8%. Hampir 96% merupakan perkebunan milik rakyat, melibatkan tenaga kerja sekitar 1,8 juta kepala keluarga (KK). Dengan rata-rata kepemilikan lahan 0,6 ha.

Indonesia menjadi produsen dunia kopi ke-4  setelah Brazil, Vietnam, Kolombia. Tahun 2016 volume ekspor 502 ribu ton dengan nilai USD 1.197,7 juta. Indonesia mempunyai keragaman jenis kopi. Ada kopi specialty dari mulai Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Lintong, Kopi Java, Kopi Toraja, Kopi Bali Kintamani dan Kopi Flores.

Kemudian kopi berdasarkan Indikasi Geografis (IG) seperti Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Flores Bajawa, Kopi Arabika Kalosi Enrekang, Kopi Arabika Java Ijen-Raung dan Kopi Arabika Java Preanger. “Untuk itu, peningkatan daya saing kopi terus dilakukan oleh Kementan,” ujar Bambang.

Menurutnya, beberapa tahun ini harga kopi meningkat tajam, biasanya harga kopi robusta Rp 20-25 ribu per kg di pasaran sekarang sudah mencapai Rp 45 ribu per kg. Peningkatan harga seiring adanya spesifikasi produk kopi dan meningkatnya gairah anak muda hingga orang tua minum kopi. “Kopi membuat detak jantung menjadi stabil, maka aliran darah ke seluruh tubuh menjadi lancar dan tubuh lebih sehat,” ujar Bambang.

Meskipun, diakuinya, kopi Indonesia masih mengahadapi permasalahan utama yakni rendahnya produktivitas akibat tanaman tua, rusak, tidak produktif dan serangan Organisme pengganggu tanaman (OPT). Kemudian terbatasnya ketersediaan benih, Good Agricultural Practices (GAP) belum diterapkan secara konsisten, kualitas biji masih rendah, kelembagaan petani masih lemah atau posisi tawar petani rendah, kemitraan antara petani dengan industri belum terwujud, terbatasnya akses terhadap permodalan dan rendahnya tingkat efisiensi produksi dan pemasaran.

Untuk itu, Kementrian Pertanian akan melakukan intensifikasi perkebunan kopi seluas 8.850 ha di sentra-sentra produksi. Bambang mengatakan, kegiatan intensifikasi perkebunan kopi antara lain berupa perbaikan tanaman kopi robusta seluas 4.900 ha yang tersebar di sembilan provinsi meliputi 22 kabupaten sentra produksi.

Kemudian perbaikan tanaman kopi jenis arabika seluas 3.750 ha di 17 kabupaten sentra produksi yang tersebar di 10 provinsi, serta perluasan areal seluas 200 ha di dua kabupaten di Kalimantan Tengah. “Untuk kegiatan tersebut kami mengalokasikan anggaran sebanyak Rp 35,5 miliar dari APBN Ditjen Perkebunan,” jelasnya.

Adapun 9 provinsi intensifikasi kopi arabika diantaranya : Jawa Timur, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Sementara kopi robusta terdapat di 10 provinsi meliputi : Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu dan Sulawesi Barat.

Menurutnya, melalui kegiatan intensifikasi tanaman dan perluasan lahan tersebut maka pihaknya menargetkan produksi kopi nasional pada 2017 sebanyak 637.539 ton dengan total luas perkebunan mencapai 1,227 juta ha. Target tersebut masih lebih rendah dari 2016 dengan luas perkebunan kopi mencapai 1,228 juta ha dan hasil produksi sebanyak 639.305 ton.

Selain intensifikasi tanaman dan perluasan lahan, Kementan akan melakukan upaya lain untuk meningkatkan produksi kopi nasional antara lain dengan penanganan organisme pengganggu tanaman, pemberian bantuan alat pengolahan dan pascapanen, pemberian bibit berkualitas serta perbaikan kebun induk.

Peningkatan produksi dan produktivitas pada areal yang diremajakan. Dengan menggunakan klon unggul untuk menggantikan tanaman tua atau tidak produktif dan pemeliharaan kebun secara intensif melalui intensifikasi. “Maka diperkirakan produksi kopi mencapai 1 sampai 1,5 ton per ha,” ujar Bambang. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here