Beranda Perkebunan 2017, Produksi Biji Kakao Diprediksi 375.000 ton

2017, Produksi Biji Kakao Diprediksi 375.000 ton

BERBAGI

Agrofarm.co.id -Produksi biji kakao tahun 2017 diperkirakan mencapai 375.000 ton. Hal itu dapat terealisasi apabila cuaca sepanjang tahun ini normal.

Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang mengatakan, Produksi kakao terus menurun dari tahun 2009 hingga tahun 2015. Meskipun, pernah mengalami puncak produksi pada tahun 2016 mencapai 650.000 ton. “Produksi biji kakao tiap tahun terus menurun, disatu sisi kebutuhan terus meningkat 3%-4% setiap tahun,” ujar Zulhefi.

Berdasasarkan data Askindo, pada tahun 2009 produksi biji kakao mencapai 542.075 ton, tahun 2010 turun menjadi 557.596 ton, tahun 2011 anjlok 460.809 ton, tahun 2012 sebesar 452.606 ton, 2013 sebanyak 444.035 ton, tahun 2014 368.925 dan tahun 2015 naik sedikit menjadi 377.000 ton.

Dia menyebutkan, produksi biji kakao tahun 2016 hanya mencapai 350.000 ton. “Hal ini disebabkan adanya El Nino dan La Nina yang mengakibatkan anjloknya produksi biji kakao dalam negeri. Tahun 2016 terjadi La Nina, curah hujan tinggi akibatnya produksi terganggu,” katanya.

Zulhefi menjelaskan, cuaca basah yang terjadi tahun lalu cukup baik bagi tanaman kakao, hujan yang terlalu banyak juga patut diwaspadai serangan hama penyakit busuk buah kakao karena dapat merontokkan bunga dan bisa membuat biji yang sedang tumbuh menjadi busuk.

Dia memprediksi tahun ini dengan asumsi cuaca akan biasa-biasa saja , maka produksi akan membaik dari tahun lalu mencapai 375.000 ton. “Produksi sulit diprediksi karena tanaman kakao sensitif terhadap perubahan cuaca,” tandasnya.

Saat ini kondisi harga biji kakao ditingkat petani juga mengalami penurunan yakni sekitar Rp 30.000 per kilogram (kg), dibandingkan bulan sebelumnya sekitar Rp 40.000 per kg.

“Pendapatan petani kakao rendah hanya Rp 15 juta per tahun. Sementara petani petani jagung dapat penghasilan Rp 20 juta, maka petani kakao mulai beralih tanaman lain yang lebih menguntungkan,” jelasnya.

Data Askindo menunjukkan luas lahan tanam kakao yaitu 1,3 juta ha dan 95% dikelola oleh petani. Padahal, sebelumnya sempat menyentuh 1,6 juta ha. Menurutnya, penyusutan luas areal kakao lantaran banyak kebun dikonversi menjadi tanaman lain seperti kelapa sawit, jagung, karet dan cengkeh.

Zulhefi mengatakan kondisi sebagian besar pohon petani cukup memprihatinkan karena sudah berusia sangat tua. “Hampir 70% tanaman kakao petani berusia tua dan banyak di antara mereka yang sekarang mengabaikan tanamannya karena produktivitas rendah. Rata-rata produktivitas petani itu 400-500 kg per ha per tahun,” ujar Zulhefi. Beledug Bantolo