Beranda Perkebunan 16.725 Ha Kebun Kelapa Akan Diremajakan

16.725 Ha Kebun Kelapa Akan Diremajakan

737
BERBAGI

Agrofarm.co.id – Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 28,1 miliar untuk melakukan peremajaan tanaman (replanting) kelapa seluas 16.725 hektar (ha) di 20 provinsi sentra produksi.

Tanaman kelapa merupakan tanaman yang telah menyatu dengan kehidupan sehari – hari masyarakat Indonesia, sehingga kelapa disebut sebagai tanaman sosial. Tanaman ini berfungsi multiguna baik ekonomi, sosial, keagamaan, kesehatan dan saat ini berkembang sebagai subtitusi bahan bakar (biofuel), maka kelapa dijuluki sebagai “Pohon Kehidupan” (The Tree of life).

Namun dalam perkembangannya, semenjak periode 1980-an peran kelapa sebagai sumber bahan baku minyak goreng makin tenggelam dan tergeser oleh komoditi kelapa sawit. Dirjen Perkebunan Kementan Bambang mengungkapkan, sekitar 98 % merupakan perkebunan rakyat, diusahakan secara monokultur, kepemilikan lahan terbatas dan pemanfaatan belum optimal dengan penerapan teknologi yang terbatas.

“Akibatnya, produktivitas kelapa rendah sekitar  1,2 ton/hektar atau  sekitar 50% dari produksinya. Hal ini karena tanaman kelapa rakyat tergolong tanaman tua yang diwarisi secara turun temurun,” tukas Bambang.

Dia menambahkan, penyebab produksi kelapa nasional terus menurun lantaran adanya kecenderungan petani melakukan penebangan kelapa tua/muda untuk menggantikan kayu bahan bangunan karena keterbatasan dan tingginya harga kayu saat ini. “Selain itu, penggunaan pucuk kelapa secara berlebihan untuk upacara keagamaan khususnya di Pantai Timur, Jawa Timur,” ujar Bambang.

Bambang mengatakan, kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan nasional, yang pada 2014 total areal perkebunannya di Indonesia mencapai 3,63 juta ha terdiri 3,57 juta hektare kebun rakyat, 4.053 ha kebun swasta dan sisanya milik swasta besar.

Pada tahun 2016 luas areal kelapa di Indonesia mencapai 3.566.103 ha dengan produksi sekitar 2.890.735 ton. Bambang memperkirakan, produksi kelapa tahun ini turun menjadi 2.871.280 ton. Sementara areal perkebunan juga menyusut 3.544.393 ha.

Menurut dia, dari luas perkebunan kelapa tersebut saat ini sekitar 2,6 juta hektare dalam kondisi rusak, di antaranya 462.407 ha dalam kondisi tua, sehingga memerlukan peremajaan guna meningkatkan produktivitasnya.

Dia menambahkan, guna meningkatkan produksi kelapa nasional Kementan telah mengalokasikan dana  sebesar Rp 28,1 miliar untuk melakukan replanting tanaman kelapa di 20 provinsi sentra produksi. “Dengan anggaran tersebut diproyeksikan mampu melakukan perbaikan tanaman kelapa pada areal seluas 16.725 hektar,” ujar Bambang.

Adapun 20 provinsi tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggra Timur, Papua, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat.

Direktur Pemasaran Ditjen Perkebunan Dedi Mulyadi mengatakan, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan peremajaan tanaman kelapa mengingat harga komoditas tersebut sedang bagus. Dia mencontohkan di Kabupaten Sambas, harga kelapa di tingkat petani antara Rp3.000-Rp3.500 per butir sehingga petani bergairah mengembangkan komoditas tersebut.

Saat ini, menurut dia, nilai perdagangan kelapa secara nasional mencapai Rp15,8 triliun. Beberapa produk olahan dari kelapa yang memiliki nilai potensial yakni gula kelapa, gula semut, kopra, sabut kelapa, nata decoco, VCO atau minyak kelapa murni serta tempurung kelapa.

Peningkatan Produksi

Bambang menegaskan, peremajaan kelapa tua tidak produktif dengan pemanfaatan benih  unggul bermutu yang disinergikan dengan diversifikasi tanaman palawija akan menjadi fokus Kementan dalam upaya peningkatan produksi kelapa nasional. “Ada perbaikan kelapa secara nasional yang dimulai tahun 2018. Pada umumnya tanaman kelapa sudah tua,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, saat ini dilakukan pendataan bersama dengan pusat pelitian, perguruan tinggi, direktorat jenderal perkebunan dan pemerintah daerah guna mencari sumber benih lokal unggul. “Kami akan identifikasi, ddata dan akan dilakukan sertifikasi benih unggul kelapa yang mampu menghasilkan produksi 3-4 ton/ha,” jelas Bambang.

Selain itu, melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman kelapa, pembangunan unit pengolahan kelapa terpadu untuk mengolah  produk kelapa menjadi minyak kelapa, sari kelapa, VCO, sabut dan tempurung kelapa. Pemberdayaan pekebun tanaman kelapa melalui sistem kebersamaan ekonomi berdasarkan manajemen kemitraan (SKE-MK).

“Arah kebijakan pengembangan kawasan untuk kelapa diutamakan pada daerah indonesia wilayah timur seperti tertuang dalam lampiran permentan No. 46 tahun 2015. Sentra kelapa dan daerah potensi kelapa,” tuturnya.

Kemudian, mengoptimalkan kegiatan yang terangkum dalam kawasan meliputi : budidaya, teknologi, pemberdayaan petani, pengolahan dan pemasaran. Berintegrasi dengan institusi lain yang terkait seperti Litbang Kementan, Kemendag dan Menkop dan UKM dan kementerian lain.

Dia menambahkan, membangun kebun Demplot dan penetapan Blok Penghasil Tinggi Spesifik Lokal. Jenis Kelapa Genjah, Kelapa Hibride dan khususnya Kelapa Kopyor, Pandan Wangi/Hijau.

Sementara itu, untuk meningkatkan daya saing kelapa, pemerintah mendorong pengembangan produk olahan yakni gula semut, sabut kelapa, Nata de Coco dan VCO. Selama ini petani hanya menghasilkan kopra yang hara jualnya rendah sekitar Rp 3.500-4.000 per kg.

Dia mengakui, saat ini industri pengolahan kelapa masih terfokus di Jawa dan Sumatera. Belum banyak menyebar di seluruh Tanah Air. “Kami berharap agar industri pengolahan ini menyebar ke sentra-sentra produksi kelapa yang lain,” kata Bambang.

Selain itu, pengembangan kawasan kelapa pada 14 propinsi di Indonesia yaitu  Propinsi Riau, Jambi, Sumatera Barat, Yogyakarta, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat. Beledug Bantolo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here