Beranda Perkebunan Kementan Targetkan Swasembada Gula pada 2019

Kementan Targetkan Swasembada Gula pada 2019

194
BERBAGI
Produktivitas tanaman tebu harus ditingkatkan. (Ist)

Agrofarm.co.id – Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mencapai target swasembada gula (konsumsi) di tahun 2019 dengan produksi 3 juta ton.

“Dalam road map di tahun 2019 kita targetkan swasembada gula konsumsi, produksi gula 3 juta ton. Produksi saat ini baru mencapai 2,5 juta ton dengan areal sekitar 450 ribu hektar (ha). Sementara itu,  target tahun depan 500 ribu ha, sehingga kurang 50 ribu  ha untuk mencapai 3 juta ton. Maka saat ini produktivitas 5,5 ton/ha harus ditingkatkan 0,5 ton/ha sehingga bisa mencapai 6 ton/ha,” kata Agus Wahyudi, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementan pada acara Diskusi Nasional Gula oleh Media Perkebunan dengan tema “Mampukah Gula Indonesia Berdaya Saing” di Jakarta, Kamis (09/6/2017).

Lebih lanjut, menurut Agus, untuk mencapai produktivitas sebesar 6 ton/ha bukanlah sulit, karena hal tersebut sudah pernah dicapai pada tahun 2008. Tapi setelah itu turun kembali menjadi 5 ton/ha. Kemudian rendemen gula pun harus kembali ditingkatkan dari 7,5 persen menjadi 8 persen, seperti tahun 2003.

“Sehingga kalau naik dalam 3 tahun ke depan bukan khayalan karena pernah mencapai 6 ton pada 2016,” ujar Agus.

Saat ini Jawa Timur merupakan kontributor gula nasional dengan produksi 46,39% dari total produksi nasional dengan luas lahan mencapai 45% dari total luas lahan tebu. Kontributor ke dua Lampung 27,7% dari total produksi nasional, dengan luas lahannya 35% dari total luas lahan nasional.

Sementara itu, perluasan areal tebu di Indonesia, kata Agus ada tiga sumber. Pertama, mengembalikan areal tebu rakyat sebesar 20 ribu ha yang diperoleh dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Lampung. Kemudian perluasan tebu rakyat  10 ribu ha di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Lampung.  Selain itu, perluasan di areal pabrik gula (PG) baru luar Jawa yaitu Lampung, NTB, NTT dan OKI.

Kedua, tidak kalah penting selain perluasan yaitu harus dilakukan bongkar ratoon secara bertahap. “Hal ini mengingat tidak sedikit petani yang masih enggan melakukan bongkar ratoon secara tepat waktu,” katanya.

Menurutnya, produktivitas yang tinggi akan bisa dicapai secara berkelanjutan apabila dilakukan sesuai good agriculture practices (GAP). Diantaranya mengairi tebu di lahan kering dengan mengembangkan sumur  dalam dan pompa, bongkar ratoon menggunakan varietas unggul dan melakukan perawatan.

“Sehingga tahun depan secara bertahap kita akan membangun sumur dalam dengan biaya Rp 500 juta dan pompa sebesar Rp 25 juta per unit. Harapannya kita bisa mengairi lahan dengan tersedianya kedua hal ini sekalipun El nino datang masih bisa meningkatkan produktivitas,” papar Agus.

 

Ketiga, sudah saatnya petani meningkatkan pola konvessional beralih ke mekanisasi. “Mekanisasi sudah menjadi kewajiban karena tenaga kerja sudah sangat sulit,” ujar Agus.

Selain itu, katanya, karakter tanaman tebu yang butuh pemeliharaan secara baik. Maka dalam hal ini mekanisasi sangat berfungsi, dengan membangun drainase di areal sawah. “Hal ini juga untuk mengantisipasi musim hujan tapi tetap bisa untuk mengeluarkan air,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Agus Pakpahan, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menambahkan, sebenarnya revolusioner itu impor gula. Sebab sejak zaman orde baru (orba) sudah ada impor 500 ribu ton, tapi sejak reformasi melonjak menjadi 2 juta ton.

“Untuk itu dalam hal ini pembelajaran menjadi sangat penting untuk bisa maju. Sebab yang namanya swasembada gula tidak akan tercapai kalau hanya di atas kertas,” tegas Agus.

Agus mengakui masalah tebu yaitu diantaranya harga gula dunia yang turun terus. “Sedangkan sampai sejauh ini kita bisa bertahan,” tutur Agus.

Adapun turunnya harga gula dunia, menurut Agus, karena tiap-tiap negara berbeda-beda dalam menangani masalah pergulaan ini. Amerika Serikat (AS) memberikan subsidi kepada industri gula. Skemanya meberikan penghargaan kepada PG bukan karena efisien, namun industri gula mampu menyerap tenaga kerja dan berfungsi sebagai keamanan pangan. Sedangkan kalau efisiensi di sana tidak terjadi,” ujar Agus.

Disisi lain, ada beberapa hal yang mempengaruhi naik turunnya harga gula di asing-masing negara. Diantaranya lingkungan,sosial, dan politik. Sebab harus diakui munculnya PG rafinasi saat ini jika tidak dapat dikendalikan, maka bisa menjadi faktor sosial politik. “Jadi untuk mencapai swasembada gula perlu diperhatikan berbagai faktor,” kata Agus.

Agung P Murdanoto, Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia DKI dan Jabar menyatakan permasalahan gula pada on farm adalah sulitnya mengembangkan areal baru dan mempertahankan yang sudah ada; keterbatasan infrastruktur terutama di luar Jawa, kurangnya penciptaan dan persediaan bibit unggul baru dan berkurangnya tenaga kerja sektor budidaya; keterbatasan akses permodalan bagi petani sehingga penerapan teknologi belum optimal; kurangnya sarana irigasi dan dukungan kebijakan.

Sedang di off farm beberapa pabrik gula memiliki keterbatasan fasilitas giling sehingga tidak mampu bersaing; PG sudah tua sehingga efisiensi rendah, mekanisasi dan implementasi masih terbatas; kualitas gula tidak stabil; biaya produksi relatif tinggi; belum berkembangnya diversifikasi dan hilirisasi produk berbasis tebu sehingga daya saing rendah dan kesiapan berkompetisi di pasar. Beledug Bantolo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here